TKA 2025 dan PISA: Dua Evaluasi yang Mengungkap Realitas Pilu Pendidikan Indonesia
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 dan temuan Program for International Student Assessment (PISA) telah mengungkap realitas pilu yang menghadang dunia pendidikan Indonesia. Kedua evaluasi ini memberikan gambaran yang jelas bahwa kualitas pendidikan nasional masih jauh dari target yang diinginkan, dengan capaian siswa yang rendah di berbagai bidang kompetensi penting.
Data TKA 2025 menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta tes mengalami kesulitan dalam memahami teks naratif dan eksplanatif yang kompleks, serta dalam melakukan perhitungan matematika yang melibatkan konteks kehidupan nyata. Banyak siswa juga tidak mampu menyusun argumen yang jelas dan logis dalam tulisan mereka. Sementara PISA mengungkapkan bahwa siswa Indonesia memiliki kemampuan literasi ilmiah yang rendah, dengan sebagian besar tidak mampu menginterpretasikan data ilmiah atau memahami prinsip dasar sains yang berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan.
Realitas ini menjadi lebih pilu ketika melihat kondisi di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Di sana, banyak sekolah tidak memiliki ruang kelas yang layak, buku pelajaran yang cukup, atau guru yang memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai. Siswa di daerah ini seringkali harus berjalan jauh untuk mencapai sekolah dan tidak memiliki akses terhadap teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di kota besar, di mana siswa memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai sumber belajar dan fasilitas pendidikan modern.
Pakar pendidikan dari Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa perbedaan kondisi ini menjadi faktor utama penyebab disparitas capaian antara siswa perkotaan dan pedesaan. Selain itu, budaya masyarakat yang masih kurang memprioritaskan pendidikan di beberapa daerah juga berkontribusi pada rendahnya motivasi belajar siswa. Kedua evaluasi ini hanya memperlihatkan betapa besar tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai kesetaraan dan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Meskipun realitasnya cukup berat, tidak sedikit pihak yang tetap memiliki harapan terhadap perbaikan. Banyak guru muda yang rela ditempatkan di daerah terpencil untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sana. Selain itu, berbagai program bantuan dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat terus berjalan untuk memberikan dukungan kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan. Semua upaya ini diharapkan dapat secara bertahap mengubah realitas pilu tersebut menjadi kondisi yang lebih baik.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah