Tragedi Kognitif: Mengapa Lulusan SD Kita Gagal Menghadapi Standar TKA yang Tinggi?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kegagalan massal dalam mencapai standar minimum Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun ini telah membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem pendidikan dasar di Indonesia yang selama ini dianggap "baik-baik saja". Berdasarkan laporan statistik pendidikan nasional, rerata nilai TKA merosot tajam terutama pada komponen logika numerasi dan literasi tingkat lanjut. Masalah ini bermuara pada satu titik krusial: Sekolah Dasar (SD) sebagai gerbang utama pendidikan telah terabaikan dalam hal kualitas substansi pembelajaran, sehingga siswa lulus dengan kompetensi yang hanya menyentuh permukaan tanpa pemahaman konsep yang mengakar.
Pakar neurosains pendidikan menyatakan bahwa kegagalan di tingkat lanjut adalah manifestasi dari ketidaktuntasan perkembangan kognitif di masa SD. Kurikulum yang terlalu padat memaksa guru untuk mengejar target materi tanpa memedulikan apakah siswa benar-benar memahami logika di balik angka atau teks yang mereka baca. Akibatnya, siswa kehilangan rasa ingin tahu dan kemampuan nalar kritis mereka tumpul karena terus menerus dicekoki instruksi mekanis. Saat mereka dihadapkan pada soal TKA yang membutuhkan abstraksi dan korelasi antarvariabel, struktur berpikir mereka runtuh karena tidak memiliki landasan logika yang kuat sejak dini.
Investasi pendidikan selama ini lebih banyak terserap untuk program-program yang bersifat "pemadam kebakaran" di tingkat SMA dan Universitas, namun mengabaikan akar masalah di tingkat SD. Faktanya, guru SD sering kali memiliki beban kerja paling berat namun dengan dukungan pengembangan profesional yang paling minim dibandingkan dosen atau guru sekolah menengah. Ketimpangan ini menciptakan siklus di mana talenta-talenta terbaik bangsa jarang yang berminat menjadi guru SD, padahal jenjang inilah yang membutuhkan kecerdasan pedagogis tertinggi untuk menyederhanakan konsep-konsep rumit bagi anak-anak. Jika sumber daya manusia di garda terdepan ini tidak ditingkatkan kualitasnya, maka jebloknya nilai TKA akan terus menjadi tradisi tahunan.
Dampak sosiologis dari jebloknya nilai TKA ini juga memicu kekhawatiran akan melebarnya kesenjangan sosial, di mana hanya anak-anak dari keluarga mampu yang bisa menutupi kekurangan sekolah dasar melalui bimbingan belajar tambahan. Sementara itu, siswa dari kalangan menengah ke bawah yang sepenuhnya bergantung pada sekolah negeri semakin tertinggal jauh. Ketidakadilan kualitas di tingkat SD ini menciptakan fondasi yang tidak setara, yang pada akhirnya terefleksi pada hasil TKA yang diskriminatif. Mutu pendidikan nasional tidak boleh hanya menjadi milik segelintir orang; ia harus dimulai dengan pemerataan standar kualitas di seluruh sekolah dasar di nusantara.
Reformasi pendidikan harus segera beralih dari sekadar pergantian kurikulum administratif menjadi perbaikan metode instruksional di ruang kelas SD. Perlu ada gerakan nasional untuk mengembalikan marwah SD sebagai tempat anak belajar berpikir, bukan sekadar tempat anak belajar menghafal. Penggunaan teknologi di SD juga harus dievaluasi agar benar-benar menunjang kognisi, bukan justru menjadi distraksi yang memperpendek rentang perhatian siswa. Hanya melalui pendekatan yang holistik dan fokus pada fondasi awal, kita dapat memperbaiki profil akademik siswa Indonesia secara berkelanjutan.
Kesimpulannya, nilai TKA yang rendah adalah indikator klinis bahwa tubuh pendidikan kita sedang sakit di bagian dasarnya. Mengabaikan sekolah dasar berarti membiarkan masa depan bangsa tumbuh di atas fondasi yang rapuh dan mudah goyah. Perlu ada komitmen kolektif dari pemerintah dan masyarakat untuk mengembalikan kualitas ke setiap bangku sekolah dasar. Mari kita hentikan obsesi pada hasil akhir dan mulailah peduli pada proses paling awal, karena di sanalah martabat intelektual bangsa ini sesungguhnya sedang dipertaruhkan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah