Transformasi Guru Menjadi Pendamping Kesehatan Mental di Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Transformasi peran guru dari sekadar pengajar materi akademik menjadi pendamping kesehatan mental merupakan tuntutan mendesak dalam ekosistem pendidikan kontemporer saat ini. Guru memiliki posisi strategis sebagai pihak pertama yang berinteraksi secara intensif dengan siswa dalam durasi waktu yang cukup panjang setiap harinya. Kemampuan guru dalam memberikan pertolongan pertama pada isu-isu psikologis dapat mencegah terjadinya penurunan kondisi mental siswa ke tahap yang lebih kronis. Peran ini menuntut adanya peningkatan kompetensi pedagogis yang dibarengi dengan pemahaman mendalam mengenai psikologi perkembangan anak usia sekolah dasar. Oleh karena itu, investasi pada pelatihan kesehatan mental bagi guru adalah langkah preventif yang sangat efektif untuk melindungi kesejahteraan siswa secara kolektif.
Pendidik yang berfungsi sebagai pendamping kesehatan mental harus mampu menciptakan iklim komunikasi yang empatik dan terbuka bagi seluruh peserta didiknya di kelas. Mereka perlu belajar cara mendengarkan secara aktif tanpa memberikan penghakiman yang dapat menutup ruang bagi siswa untuk bersikap jujur mengenai perasaan mereka. Kepekaan guru dalam membaca sinyal perubahan perilaku nonverbal akan menjadi kunci utama dalam melakukan intervensi dini yang bersifat suportif dan edukatif. Selain itu, guru juga berperan sebagai mediator yang menghubungkan siswa dengan tenaga profesional seperti psikolog apabila ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengajaran, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara guru dan siswa yang bermuara pada kesuksesan belajar.
Tantangan utama dalam transformasi ini adalah beban administratif guru yang masih sangat berat sehingga sering kali mengabaikan aspek pengasuhan jiwa di sekolah. Pemerintah perlu meninjau ulang struktur tugas guru agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendampingan personal bagi siswa yang membutuhkan bantuan. Penyediaan modul panduan kesehatan mental yang praktis dan aplikatif dapat menjadi referensi berharga bagi guru dalam menangani dinamika emosional di ruang kelas. Dukungan berupa kelompok supervisi atau komunitas belajar antar-guru juga sangat diperlukan agar mereka dapat saling berbagi pengalaman dan solusi dalam menangani masalah mental. Guru yang sehat secara mental akan jauh lebih efektif dalam mendampingi dan menularkan energi positif kepada para peserta didiknya secara berkelanjutan.
Selain kompetensi teknis, aspek keteladanan dalam mengelola emosi diri sendiri harus ditunjukkan oleh guru sebagai bagian dari proses pendampingan yang autentik. Siswa akan belajar cara menghadapi stres dan konflik dengan melihat bagaimana guru mereka berinteraksi secara bijaksana dalam situasi-situasi sulit di sekolah. Pendidikan kesehatan mental melalui keteladanan ini memiliki dampak yang jauh lebih permanen dibandingkan dengan penyampaian materi secara teoretis di dalam kelas. Guru harus menjadi sosok yang dapat dipercaya dan memberikan rasa aman sehingga siswa tidak merasa sendirian saat menghadapi badai emosional dalam hidupnya. Peran pendampingan ini adalah wujud nyata dari pengabdian seorang pendidik dalam membentuk manusia yang utuh lahir dan batin bagi bangsa.
Sebagai penutup, transformasi peran guru sebagai pendamping kesehatan mental adalah kunci keberhasilan dalam menghapus stigma dan merangkul kesejahteraan jiwa anak-anak. Kita harus memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada para guru yang telah berupaya keras melampaui tugas mengajar demi menjaga kesehatan mental siswanya. Keberadaan pendamping yang peka di sekolah akan menciptakan generasi yang lebih tangguh dan memiliki kecerdasan emosional yang mumpuni dalam bersosialisasi. Mari kita jadikan profesi guru sebagai garda terdepan dalam gerakan nasional untuk peduli kesehatan mental sejak dini di jenjang pendidikan dasar. Dengan guru yang responsif dan empatik, masa depan pendidikan Indonesia akan jauh lebih cerah dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.