Transformasi Paradigma Penilaian dari Formalitas Nilai Menuju Penguasaan Kompetensi Substansial
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Transformasi paradigma penilaian menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan pendidikan tinggi dari jebakan formalitas angka yang tidak memiliki makna substansial. Sistem penilaian tradisional yang hanya berfokus pada hasil ujian tengah dan akhir semester sudah tidak lagi memadai untuk mengukur kompetensi holistik. Pendidikan harus beralih menuju penilaian berkelanjutan yang mengutamakan proses penguasaan keahlian (mastery learning) secara mendalam dan terintegrasi di setiap tahapan. Dengan paradigma baru ini, mahasiswa tidak lagi dikejar oleh rasa takut akan nilai rendah, melainkan dimotivasi oleh keinginan untuk benar-benar mahir. Perubahan ini akan memastikan bahwa gelar sarjana yang disandang merupakan cerminan nyata dari kapasitas intelektual yang dapat dipertanggungjawabkan secara luas.
Dalam model penilaian berbasis kompetensi, setiap capaian pembelajaran harus dapat didemonstrasikan melalui bukti-bukti kerja yang autentik dan relevan dengan bidang ilmu. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk terus memperbaiki kemampuannya hingga mencapai standar minimal yang telah ditetapkan secara ketat oleh program studi. Hal ini menghilangkan praktik pemberian nilai "kasihan" karena standar keberhasilan ditentukan oleh kualitas produk atau kinerja yang dihasilkan secara nyata. Dosen berperan sebagai fasilitator dan mentor yang memberikan umpan balik konstruktif untuk membantu mahasiswa melampaui hambatan belajar mereka. Pendekatan ini jauh lebih adil karena menghargai perbedaan kecepatan belajar setiap individu namun tetap menjamin kualitas hasil akhir yang seragam.
Transformasi ini juga menuntut adanya fleksibilitas dalam kurikulum yang memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara lebih luas. Penilaian tidak lagi bersifat searah dari dosen ke mahasiswa, tetapi juga melibatkan penilaian sejawat (peer-assessment) dan penilaian diri sendiri (self-assessment). Keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses evaluasi akan menumbuhkan kesadaran akan kekurangan diri serta keinginan untuk terus meningkatkan kualitas pribadi. Selain itu, penggunaan portofolio digital yang mendokumentasikan setiap proyek selama masa studi akan menjadi bukti kompetensi yang jauh lebih berharga daripada transkrip nilai. Dunia kerja akan lebih mudah memverifikasi kemampuan lulusan melalui karya-karya yang telah mereka hasilkan secara nyata selama kuliah.
Dukungan kebijakan dari tingkat kementerian dan pimpinan universitas sangat krusial untuk memfasilitasi transisi paradigma penilaian yang sangat fundamental ini. Diperlukan pelatihan intensif bagi para dosen agar mampu menyusun instrumen penilaian yang berbasis kompetensi dan mampu mengelola proses pembelajaran yang dinamis. Meskipun memerlukan upaya dan sumber daya yang lebih besar, hasil yang didapatkan akan jauh lebih berkualitas bagi kemajuan pendidikan nasional. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam kenyamanan sistem lama yang terbukti gagal melahirkan lulusan dengan daya saing tinggi di kancah global. Inovasi dalam sistem penilaian adalah kunci utama untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Pada akhirnya, tujuan sejati dari pendidikan tinggi adalah untuk menghasilkan insan kamil yang kompeten, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat luas di sekitarnya. Dengan menggeser fokus dari formalitas nilai menuju penguasaan kompetensi, kita sedang mengembalikan ruh pendidikan sebagai proses pembebasan dan pencerahan intelektual. Lulusan yang lahir dari sistem ini akan memiliki kepercayaan diri yang otentik karena mereka tahu benar apa yang mereka kuasai secara mendalam. Mereka tidak akan cemas dengan persaingan kerja karena kompetensi yang mereka miliki adalah aset berharga yang sulit digantikan oleh mesin. Mari kita sambut masa depan pendidikan yang lebih bermutu dengan melakukan transformasi penilaian yang jujur, substansial, dan berorientasi pada kemajuan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.