Transformasi Pembelajaran SD Melalui Canva sebagai Wujud SDGs 4: Pendidikan Berkualitas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Canva menjadi salah satu platform digital yang semakin dilirik dalam pendidikan dasar karena kemampuannya menghadirkan pembelajaran visual yang menarik dan interaktif. Dalam konteks SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, penggunaan Canva tidak hanya memudahkan guru membuat media pembelajaran kreatif, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif siswa melalui desain yang sederhana dan mudah dipahami. Ketika guru mampu mengintegrasikan Canva dalam proses pembelajaran, mereka bukan hanya mentransfer materi, tetapi juga melatih keterampilan teknologi dasar siswa sejak dini. Secara kritis, ini menunjukkan bahwa guru sekolah dasar harus memiliki literasi digital yang memadai agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi pendidikan. Namun, penerapan Canva sering kali mengalami kendala terkait infrastruktur, terutama di daerah yang minim akses internet dan perangkat yang memadai. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan kebijakan pendidikan yang lebih progresif agar teknologi seperti Canva dapat dimanfaatkan secara merata dan tidak hanya dinikmati sekolah-sekolah unggulan.
Integrasi Canva dalam pembelajaran di jenjang pendidikan dasar secara langsung mendukung pengembangan keterampilan abad 21, yaitu kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi teknologi. Guru dapat membuat infografis, diagram alur, hingga template presentasi edukatif yang membantu siswa memahami materi abstrak menjadi konkret, termasuk pada mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPAS. Pemanfaatan desain visual berbasis Canva mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang menyenangkan, sehingga relevan dengan tujuan SDGs 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, karena siswa belajar dengan suasana positif tanpa tekanan akademik. Pembelajaran berbasis kreativitas membuka ruang bagi anak untuk bereksplorasi dan mengurangi pendekatan belajar pasif yang masih banyak ditemukan di sekolah dasar tradisional. Secara mendalam, hal ini menjadi indikator bahwa pendidikan dasar perlu bergeser dari model konvensional ke model partisipatif teknologi. Namun implementasi efektif tetap bergantung pada kemampuan guru dalam menyelaraskan pembelajaran kreatif berbasis Canva dengan kurikulum nasional.
Dalam perspektif kritis, penggunaan Canva bukan hanya inovasi visual, tetapi juga cerminan upaya mewujudkan SDGs 10 tentang pengurangan kesenjangan pendidikan. Sekolah dasar perkotaan cenderung cepat mengadaptasi teknologi, sementara sekolah pedesaan tertinggal akibat keterbatasan sumber daya digital. Hal ini menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pemerataan akses pendidikan berkualitas yang menjadi bagian utama dari SDGs. Oleh karena itu, pemanfaatan Canva harus disertai dengan pelatihan digital bagi guru serta penyediaan fasilitas teknologi yang layak dari pihak sekolah maupun pemerintah. Selain itu, integrasi Canva dalam pendidikan harus didukung oleh kolaborasi antara dunia pendidikan dan pihak eksternal seperti penyedia teknologi, lembaga swadaya masyarakat, serta komunitas pendidikan. Jika strategi implementasi tidak dirancang secara sistematis, maka penggunaan Canva hanya akan menjadi tren sementara tanpa dampak berkelanjutan terhadap mutu pendidikan dasar.
Lebih jauh, pemanfaatan Canva dapat menjadi strategi untuk meningkatkan budaya literasi visual di sekolah dasar, yang sejalan dengan indikator SDGs 4.7 tentang pendidikan berkelanjutan dan global citizenship. Melalui desain edukatif, siswa mampu memahami konsep lingkungan, keberagaman budaya, dan tanggung jawab sosial, seperti membuat poster hemat energi atau infografis tentang pelestarian alam. Pendekatan ini sangat efektif dalam menanamkan kesadaran kritis sejak dini, karena interaksi visual lebih mudah dipahami oleh anak daripada teks panjang. Guru dapat mendorong siswa membuat karya digital sederhana, sehingga siswa tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator konten edukatif. Hal ini menciptakan pembelajaran aktif berbasis proyek yang mampu meningkatkan rasa percaya diri dan keterlibatan emosional siswa terhadap isu pendidikan dan keberlanjutan. Dengan demikian, Canva menjadi alat strategis dalam mencetak generasi SD yang sadar lingkungan dan melek teknologi.
Ke depan, penggunaan Canva dalam pendidikan dasar harus diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung implementasi SDGs 4 dan 9 terkait pendidikan dan inovasi teknologi. Pemerintah, sekolah, dan pendidik perlu membangun ekosistem pembelajaran digital yang inklusif melalui penyediaan fasilitas, pelatihan berkelanjutan, dan pengembangan kurikulum teknologi kreatif. Selain itu, evaluasi penggunaan media Canva harus dilakukan secara berkala untuk memastikan keberhasilan implementasi dalam meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Jika dilakukan secara sistematis, pendidikan berbasis Canva dapat membuka peluang penciptaan model pembelajaran inovatif yang relevan dengan tantangan era digital. Strategi ini juga memperkuat peran guru sekolah dasar sebagai fasilitator dan kreator pembelajaran digital, bukan sekadar penyampai materi. Pada akhirnya, Canva bukan hanya alat bantu visual, tetapi simbol transformasi pendidikan menuju generasi SD yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing global.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Dikasih Info