Transformasi Perpustakaan Sekolah: Dari Gudang Buku Menjadi Laboratorium Literasi Multimedia
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perpustakaan
sekolah dasar di Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis relevansi yang
cukup serius akibat pergeseran gaya belajar siswa ke arah multimedia dan video
pendek. Di saat standar PISA menuntut kemampuan mencari, mengolah, dan
mengevaluasi informasi dari berbagai sumber, banyak perpustakaan sekolah masih
terjebak pada format konvensional sebagai sekadar gudang penyimpanan buku yang
kaku dan membosankan. Modernisasi perpustakaan menjadi langkah yang sangat
krusial untuk menarik kembali minat baca siswa yang telah terbiasa dengan
kecepatan, warna-warni, dan interaktivitas yang ditawarkan oleh platform
digital seperti TikTok.
Konsep
perpustakaan masa depan tidak boleh lagi mengharamkan teknologi, melainkan
harus mengadopsi elemen interaktif di mana buku fisik bersinergi dengan konten
digital berkualitas tinggi. Misalnya, perpustakaan dapat menyertakan kode QR
pada setiap sampul buku cerita yang mengarah ke ulasan video pendek kreatif
atau dokumenter terkait topik buku tersebut. Hal ini menciptakan pengalaman
literasi yang lebih kaya dan relevan, di mana siswa merasa bahwa membaca adalah
aktivitas yang modern dan terhubung dengan dunia nyata, bukan sekadar tugas
usang yang dilakukan di ruang yang berdebu.
Selain
perbaikan infrastruktur dan koleksi, peran pustakawan juga harus berevolusi
menjadi kurator konten multimedia yang mampu membimbing siswa membedakan antara
informasi yang kredibel dan hoaks. Pustakawan di era sekarang haruslah sosok
yang melek teknologi dan mampu menyelenggarakan kegiatan kreatif seperti
"BookTok Challenge" di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan ini, siswa
diajak membuat konten kreatif tentang buku yang mereka baca untuk dibagikan di
media sosial sekolah. Strategi ini memanfaatkan tren yang ada sebagai alat
promosi literasi yang sangat efektif untuk meningkatkan keterikatan siswa
terhadap teks.
Lebih
jauh lagi, perpustakaan sekolah harus diubah menjadi "Laboratorium Literasi"
di mana siswa tidak hanya membaca, tetapi juga melakukan riset sederhana.
Perpustakaan harus menyediakan akses ke pangkalan data digital dan ensiklopedia
interaktif yang dapat melatih siswa dalam melakukan verifikasi data lintas
sumber. Kemampuan ini sangat relevan dengan tuntutan PISA dalam aspek literasi
digital dan berpikir kritis. Jika perpustakaan hanya menyediakan buku tanpa
mengajarkan cara mengolah informasinya, maka fungsinya sebagai pusat
pembelajaran tidak akan pernah maksimal di tengah era banjir informasi saat
ini.
Lingkungan
fisik perpustakaan juga perlu ditata ulang agar lebih inklusif dan ramah bagi
anak-anak. Ruang baca yang santai dengan desain yang estetik akan membuat siswa
merasa betah untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan buku. Perpustakaan
harus menjadi jantung dari kegiatan akademik di sekolah, di mana diskusi
kelompok dan proyek kolaboratif berbasis literasi dilakukan. Dengan menjadikan
perpustakaan sebagai ruang sosial yang intelek, stigma bahwa membaca adalah
kegiatan soliter yang membosankan dapat perlahan-lahan dihilangkan dari benak
siswa SD.
Pendanaan
dan dukungan dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memastikan setiap
sekolah memiliki perpustakaan yang memenuhi standar minimum literasi modern.
Tidak boleh ada lagi sekolah dasar yang perpustakaannya hanya berisi tumpukan
buku paket yang sudah kedaluwarsa. Koleksi buku harus diperbarui secara berkala
dengan buku-buku sastra anak yang bermutu dan relevan dengan perkembangan
zaman. Investasi pada perpustakaan adalah investasi pada kecerdasan jangka
panjang siswa yang hasilnya akan terlihat pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia Indonesia di masa depan.
Keberhasilan
transformasi ini akan terlihat pada meningkatnya durasi kunjungan dan frekuensi
peminjaman buku oleh siswa secara sukarela. Ketika perpustakaan berhasil
menjadi tempat yang menyenangkan sekaligus mencerahkan bagi semua jenis media,
maka kecintaan membaca akan tumbuh secara organik dan berkelanjutan. Pada
akhirnya, perpustakaan yang transformatif adalah kunci untuk membekali siswa SD
kita dengan kemampuan bernalar yang tangguh, sehingga mereka siap menghadapi
tantangan dunia digital dan mampu bersaing dengan gemilang di kancah
internasional.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah