Translate Technology in Primary Education: Between Global Access and Cognitive Risk toward SDGs Achievement
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Penggunaan teknologi translate dalam pendidikan dasar sering dipuji sebagai solusi percepatan literasi global, karena memungkinkan siswa mengakses informasi lintas bahasa tanpa batas geografis. Dengan dukungan translate, materi pembelajaran tentang isu keberlanjutan dalam SDGs dapat diterjemahkan secara instan dan dikontekstualisasikan sesuai kebutuhan lokal. Teknologi ini meningkatkan inklusivitas, terutama bagi sekolah di daerah terpencil yang memiliki akses terbatas terhadap sumber belajar internasional. Namun, kecepatan akses informasi tidak selalu beriringan dengan kedalaman pemahaman siswa usia SD. Jika digunakan tanpa pendampingan pedagogis yang kuat, teknologi translate dapat mengubah proses belajar menjadi aktivitas pasif dan minim refleksi. Oleh karena itu, pemanfaatannya perlu dirancang secara kritis agar tetap mendukung tujuan pendidikan dasar yang membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dari sisi keuntungan (pro), teknologi translate mendukung percepatan pemahaman siswa terhadap topik internasional, terutama yang terkait dengan lingkungan, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan. Guru dapat menggunakan teks berbahasa asing tentang perubahan iklim, kemudian menerjemahkannya untuk membimbing siswa memahami relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, teknologi ini juga memungkinkan implementasi pembelajaran berbasis proyek SDGs yang melibatkan kolaborasi global antar sekolah. Siswa dapat berkomunikasi dengan rekan sebaya dari negara lain melalui platform digital dengan bantuan translate, yang mendorong kemampuan komunikasi lintas budaya sejak dini. Hal ini memperkuat keterampilan abad-21 seperti literasi informasi dan kolaborasi digital. Secara teori, ini sejalan dengan SDGs poin 4 (pendidikan berkualitas) dan poin 17 (kerja sama global).
Namun dari sisi risiko (kontra), penggunaan translate berpotensi melemahkan kemampuan berbahasa alami siswa jika terlalu bergantung pada teknologi. Siswa mungkin memahami hasil terjemahan secara literal tanpa menangkap struktur linguistik yang benar atau konteks budaya yang menyertainya. Selain itu, bug atau ketidaktepatan hasil terjemahan dapat menimbulkan miskonsepsi terhadap konsep penting, terutama pada materi ilmiah atau etnosains. Jika guru tidak memiliki keterampilan literasi digital dan kebahasaan yang memadai, pemanfaatan teknologi justru bisa menimbulkan bias informasi. Ketergantungan pada translate juga dapat memperkecil kemampuan kritis anak dalam membangun pemahaman mandiri. Pada titik ini, pendidikan dasar berisiko kehilangan fungsi esensial sebagai wahana pembentukan karakter dan cara berpikir autentik.
Untuk mengatasi dilema tersebut, guru harus menerapkan model pembelajaran berbasis analisis hasil terjemahan, bukan hanya pemanfaatan mentah teknologi. Misalnya, siswa diminta membandingkan hasil terjemahan dengan pemahaman mereka sendiri, kemudian mendiskusikan perbedaan makna bersama teman atau guru. Strategi ini mengaktifkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sekaligus menjaga kualitas literasi bahasa. Penggunaan teknologi translate juga harus dikombinasikan dengan media interaktif lain, seperti visualisasi, diskusi, dan observasi langsung agar siswa tidak kehilangan konteks lokal. Selain itu, pendidik dapat mengaitkan aktivitas translate dengan proyek SDGs berbasis aksi nyata, seperti kampanye hemat air dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Dengan demikian, teknologi menjadi stimulus intelektual, bukan substitusi proses belajar.
Pada akhirnya, teknologi translate dalam pendidikan dasar tidak boleh diposisikan sebagai instrumen utama, tetapi sebagai alat strategis yang dikontrol melalui pendekatan pedagogis berkualitas. Jika dikelola dengan bijak, teknologi ini mampu membuka akses global sekaligus memperkuat motivasi belajar siswa terhadap isu keberlanjutan dunia. Namun jika diterapkan secara instan tanpa strategi kritis, translate justru dapat menurunkan kualitas literasi dan menghambat pencapaian SDGs jangka panjang. Kuncinya adalah menempatkan guru sebagai kurator digital yang memastikan teknologi berjalan searah dengan kurikulum merdeka dan penguatan karakter. Pendidikan dasar harus berfungsi bukan hanya “menterjemahkan dunia”, tetapi juga membentuk anak agar mampu “memaknai dunia secara berkelanjutan”. Dengan pendekatan tersebut, teknologi translate akan berdampak positif, relevan, dan berorientasi masa depan.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_science.co