Transportasi Hijau: Budaya Bersepeda dan Jalan Kaki ke Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Gerakan
"Bike to School" kembali digelorakan di berbagai sekolah dasar sebagai
bagian integral dari kampanye pengurangan emisi karbon di sektor pendidikan
perkotaan. Dengan dukungan penguatan infrastruktur jalur sepeda yang lebih aman
dan ramah anak dari pemerintah kota, jumlah siswa yang memilih bersepeda atau
berjalan kaki ke sekolah meningkat pesat dalam kurun waktu satu semester
terakhir. Program ini tidak hanya dirancang untuk mengurangi kemacetan kronis
dan polusi udara di sekitar zona sekolah, tetapi juga untuk mempromosikan gaya
hidup aktif dan sehat yang kian pudar di era digital.
Dampak
positif dari gerakan transportasi hijau ini sangat terasa pada peningkatan
kebugaran fisik dan tingkat konsentrasi siswa saat memulai pelajaran di kelas.
Berbagai studi neurosains menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan seperti bersepeda
di pagi hari dapat menstimulasi pelepasan endorfin dan meningkatkan suplai
oksigen ke otak, yang berakibat pada peningkatan daya serap informasi. Secara
lingkungan, pengurangan drastis penggunaan kendaraan bermotor oleh orang tua
untuk antar-jemput telah menurunkan tingkat polusi suara dan udara di area
sekolah pada jam-jam sibuk. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih
tenang, segar, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Secara
sosial, budaya jalan kaki dan bersepeda bersama teman sebaya membangun ikatan
persaudaraan dan keterampilan navigasi sosial yang lebih kuat bagi siswa.
Mereka belajar tentang etika di jalan raya, cara berbagi ruang publik, dan
meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar secara mandiri. Pengalaman
ini sangat kontras dengan siswa yang hanya duduk pasif di dalam mobil yang
tertutup rapat, di mana interaksi sosial mereka dengan lingkungan luar menjadi
sangat terbatas. Melalui perjalanan ke sekolah, siswa diajarkan untuk menjadi
subjek yang aktif dalam ruang kota, bukan sekadar objek transportasi yang
dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Namun,
faktor keamanan dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang harus
diselesaikan melalui kolaborasi sinergis antara pihak sekolah, orang tua, dan
aparat keamanan. Budaya transportasi hijau ini perlu didukung dengan edukasi
keselamatan jalan raya (road safety) yang intensif serta penyediaan area
parkir sepeda yang aman dan memadai di lingkungan sekolah. Pemerintah kota juga
memegang peranan vital dalam memastikan koridor menuju sekolah bebas dari
hambatan dan memiliki penerangan yang cukup. Tanpa jaminan keamanan yang kokoh,
sulit bagi orang tua untuk memberikan kepercayaan penuh pada anak-anak mereka
untuk berangkat mandiri.
Pihak
sekolah juga mulai menerapkan sistem "Walking School Bus", di mana
kelompok siswa yang tinggal di area yang sama berjalan kaki bersama-sama dengan
didampingi oleh satu atau dua orang dewasa secara bergantian. Sistem ini tidak
hanya menjamin keamanan, tetapi juga menciptakan tradisi komunal yang hangat di
lingkungan perumahan. Anak-anak belajar tentang disiplin waktu dan tanggung
jawab kelompok, sementara para orang tua merasa lebih tenang karena adanya
pengawasan kolektif. Habituasi ini perlahan mulai menggeser ketergantungan
masyarakat pada kendaraan pribadi untuk jarak tempuh pendek yang sebenarnya
bisa diatasi dengan kekuatan kaki.
Dilihat
dari perspektif ekologi global, gerakan ini adalah aksi nyata mitigasi
perubahan iklim yang bisa dilakukan oleh setiap anak. Sekolah seringkali mengadakan
perhitungan kolektif mengenai berapa banyak emisi CO2 yang berhasil dikurangi
oleh warga sekolah dalam satu bulan melalui aktivitas bersepeda. Angka-angka
ini dipajang sebagai prestasi sekolah, memberikan rasa bangga pada siswa bahwa
mereka adalah pahlawan lingkungan dalam kehidupan nyata. Pendidikan lingkungan
yang berbasis aksi langsung seperti ini jauh lebih membekas daripada sekadar
menghafal definisi polusi di dalam buku pelajaran.
Sebagai
kesimpulan, budaya bersepeda dan jalan kaki ke sekolah adalah langkah berani
untuk merebut kembali kualitas ruang hidup anak-anak di tengah kepungan polusi
perkotaan. Kita sedang membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga tangguh secara fisik dan memiliki komitmen rendah karbon.
Tantangan infrastruktur memang masih ada, namun kemauan politik dan kesadaran
komunitas sekolah di Denpasar menunjukkan arah menuju masa depan yang lebih
baik. Bersepeda ke sekolah adalah sebuah pernyataan sikap bahwa kita lebih
menghargai udara bersih dan kemandirian daripada sekadar kenyamanan semu
kendaraan bermotor.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah