Wajah Ganda Inklusi Pendidikan Dasar Antara Formalitas Regulasi dan Esensi Penerimaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Implementasi pendidikan inklusif di Indonesia saat ini tengah berada dalam persimpangan jalan antara kepatuhan administratif dan ketulusan dalam praktik. Secara formal, regulasi yang mengatur hak pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus telah tersedia dengan cukup komprehensif dari tingkat pusat hingga daerah. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara retorika kebijakan dan pengalaman nyata siswa inklusi. Banyak sekolah yang membuka pintu bagi siswa difabel hanya untuk memenuhi tuntutan birokrasi tanpa menyiapkan ekosistem pendukung yang layak. Fenomena ini menciptakan "wajah ganda" pendidikan inklusi, di mana keberadaan siswa hanya tercatat sebagai data tanpa benar-benar terintegrasi dalam proses belajar. Tanpa adanya esensi penerimaan yang jujur, inklusi hanya akan menjadi beban tambahan bagi sekolah daripada menjadi sebuah nilai tambah.
Esensi penerimaan menuntut adanya kesediaan sekolah untuk melakukan penyesuaian yang tulus terhadap kebutuhan unik setiap individu siswa. Hal ini mencakup modifikasi materi pembelajaran, metode penyampaian, hingga sarana fisik yang benar-benar aksesibel bagi semua kategori disabilitas. Jika sekolah hanya menerima siswa tanpa mengubah budaya kerjanya, maka siswa berkebutuhan khusus tersebut akan terisolasi secara sosial di dalam kelas reguler. Kehadiran fisik mereka tidak dibarengi dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler yang ada. Guru kelas sering kali merasa terbebani karena tidak memiliki panduan praktis yang memadai untuk menyinergikan kebutuhan semua siswa sekaligus. Oleh sebab itu, diperlukan komitmen kepemimpinan kepala sekolah untuk menggeser paradigma dari sekadar "menampung" menjadi "mendukung" secara totalitas.
Hambatan utama dalam mencapai esensi penerimaan ini adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki spesialisasi dalam bidang pendidikan khusus. Sebagian besar guru sekolah dasar reguler belum mendapatkan bekal pengetahuan yang memadai untuk menangani hambatan belajar yang kompleks. Pelatihan-pelatihan singkat yang selama ini diberikan sering kali bersifat teoretis dan kurang menyentuh aspek praktis yang dibutuhkan di kelas. Kondisi ini diperparah dengan beban administrasi guru yang sudah sangat tinggi, sehingga perhatian terhadap siswa inklusi sering kali menjadi prioritas kesekian. Penugasan guru pembimbing khusus yang bersifat permanen di setiap sekolah inklusi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa pendampingan ahli, guru reguler akan terus berjuang dalam ketidakpastian yang merugikan perkembangan siswa berkebutuhan khusus.
Peluang untuk memperbaiki wajah ganda ini terbuka melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang pesat. Platform pembelajaran digital dapat dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih personal dan fleksibel bagi siswa dengan berbagai hambatan. Teknologi asistif, seperti perangkat lunak pembaca layar atau aplikasi komunikasi alternatif, dapat membantu siswa inklusi mengatasi hambatan sensorik dan komunikasi mereka. Sekolah dasar inklusif harus mulai berinvestasi pada literasi digital yang inklusif bagi seluruh warga sekolah untuk memaksimalkan potensi ini. Selain itu, jaringan berbagi pengetahuan antar-sekolah inklusi dapat menjadi wadah untuk bertukar praktik baik dan solusi atas kendala yang dihadapi. Inovasi teknologi yang dipadukan dengan empati manusiawi akan memperkuat esensi penerimaan di lingkungan pendidikan.
Menilai keberhasilan inklusi tidak seharusnya hanya didasarkan pada angka partisipasi kasar atau ketersediaan dokumen administrasi sekolah semata. Indikator keberhasilan yang jauh lebih penting adalah tingkat kebahagiaan dan kemajuan fungsional siswa berkebutuhan khusus selama mengenyam pendidikan. Sejauh mana mereka merasa diterima, dihargai, dan diberdayakan oleh lingkungan sekitarnya adalah ukuran sejati dari sebuah sekolah inklusif. Transformasi dari formalitas regulasi menuju esensi penerimaan memerlukan kerja keras dan konsistensi dari semua pemangku kepentingan dalam jangka waktu yang lama. Jika kita mampu menyatukan kedua wajah ini, maka pendidikan inklusif akan menjadi kekuatan transformatif bagi kemajuan bangsa. Mari kita pastikan bahwa setiap anak yang melangkah masuk ke sekolah dasar merasa benar-benar pulang ke rumah kedua mereka.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.