Weather Diary: Menulis Jurnal Cuaca sebagai Integrasi Literasi dan Sains
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Integrasi literasi dalam pembelajaran sains adalah strategi powerful yang mengembangkan multiple competencies sekaligus. Weather diary atau jurnal cuaca menggabungkan observasi saintifik outdoor dengan keterampilan menulis, menciptakan pembelajaran holistik yang meningkatkan minat siswa di kedua domain. Setiap hari, siswa mengamati cuaca di luar kelas dan kemudian menulis entry jurnal yang mendeskripsikan observasi mereka, perasaan mereka tentang cuaca tersebut, dan refleksi tentang bagaimana cuaca mempengaruhi aktivitas mereka. Aktivitas ini membuat pembelajaran IPA lebih personal dan meaningful.
Format weather diary dapat disesuaikan dengan tingkat kelas. Untuk kelas rendah (1-3), entry bisa sederhana: “Hari ini cerah. Matahari bersinar. Aku merasa panas. Aku bermain di lapangan.” Disertai dengan gambar cuaca yang mereka amati. Untuk kelas tinggi (4-6), entry lebih detail: “Pagi ini langit berawan gelap (Nimbostratus). Suhu 24°C, terasa lembab. Jam 10 mulai turun hujan ringan. Aku tidak bisa olahraga di luar, kami olahraga di aula. Aku penasaran mengapa awan hitam selalu membawa hujan.” Format yang fleksibel ini memungkinkan diferensiasi dan memastikan semua siswa dapat berpartisipasi sesuai kemampuan mereka.
Aktivitas menulis jurnal melatih vocabulary saintifik dalam konteks yang autentik. Siswa belajar dan menggunakan kata-kata deskriptif untuk cuaca: cerah, berawan, mendung, gerimis, hujan lebat, berangin, lembab, kering, panas, sejuk, dingin. Mereka belajar istilah teknis: suhu, kelembaban, presipitasi, visibilitas. Penggunaan vocabulary ini dalam konteks personal writing membuat kata-kata tersebut lebih mudah diingat dibanding mempelajarinya dari daftar vocabulary yang terpisah dari konteks. Guru dapat memberikan word bank atau word wall di kelas dengan istilah-istilah cuaca yang dapat siswa rujuk saat menulis.
Proses refleksi dalam jurnal mengembangkan metacognition dan personal connection dengan sains. Pertanyaan prompt dapat diberikan untuk memicu refleksi yang lebih dalam: “Bagaimana cuaca hari ini mempengaruhi mood mu?” “Aktivitas apa yang tidak bisa kamu lakukan karena cuaca?” “Apakah kamu menyukai cuaca hari ini? Mengapa?” “Apa yang ingin kamu ketahui lebih lanjut tentang cuaca hari ini?” Refleksi ini membantu siswa menyadari bahwa cuaca bukan fenomena yang terpisah dari kehidupan mereka, tetapi mempengaruhi emosi, aktivitas, dan pilihan sehari-hari. Kesadaran ini membuat pembelajaran sains relevan secara personal.
Weather diary juga menjadi data longitudinal yang dapat dianalisis untuk pembelajaran lebih lanjut. Setelah beberapa bulan, siswa dapat me-review jurnal mereka dan mengidentifikasi pola: “Bulan apa yang paling banyak hujan?” “Kapan suhu paling panas?” “Bagaimana cuaca berubah dari musim ke musim?” Mereka dapat membuat grafik dari data kualitatif mereka (menghitung berapa hari cerah, berawan, hujan dalam sebulan) dan membuat kesimpulan. Proses ini mengajarkan bahwa catatan sistematis yang dikumpulkan over time dapat mengungkapkan pola yang tidak terlihat dari observasi sehari-hari saja - prinsip penting dalam penelitian ilmiah jangka panjang.
Sharing dan publikasi jurnal membuat writing lebih purposeful. Sekali seminggu atau sebulan sekali, siswa dapat berbagi entry favorit mereka di depan kelas, atau jurnal dapat “dipublikasikan” dalam blog kelas atau newsletter sekolah. Beberapa entry menarik dapat dikompilasi menjadi “Weather Book” kelas yang dipajang di perpustakaan sekolah. Knowing that their writing will be read by others memotivasi siswa untuk menulis dengan lebih thoughtful dan careful. Weather diary mentransformasi tugas menulis yang sering dianggap chore menjadi dokumentasi personal yang meaningful dari perjalanan pembelajaran mereka, meningkatkan engagement baik dalam literasi maupun sains.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah