Whatsapp sebagai Media Berita Kecil Versi Anak SD
WhatsApp dapat digunakan sebagai sarana anak untuk
membuat berita sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Guru dapat meminta
siswa mengamati peristiwa kecil di lingkungan rumah. Anak kemudian menuliskan
laporan singkat dan mengirimkannya ke grup kelas. Kegiatan ini melatih
kemampuan literasi sekaligus kepekaan sosial. Anak diajak memahami cara
menyampaikan informasi secara runtut dan jelas. Dengan dukungan guru, berita
kecil tersebut menjadi latihan jurnalistik ringan. Aktivitas ini membuat anak
merasa bahwa pengalaman sehari-hari pun layak diperhatikan.
Guru dapat mengarahkan anak untuk memilih peristiwa
yang relevan dan mudah dipahami. Misalnya, kegiatan kerja bakti, hujan deras,
atau kunjungan saudara. Siswa belajar menulis informasi berdasarkan observasi
langsung. Melalui kegiatan ini, mereka terbiasa memperhatikan detail sederhana.
WhatsApp memudahkan pengiriman berita secara cepat dan rapi. Guru dapat
memberikan komentar langsung untuk memperbaiki penulisan. Dengan demikian,
siswa belajar menyampaikan informasi dengan lebih percaya diri.
WhatsApp juga memungkinkan anak melampirkan foto
sebagai pelengkap berita. Foto tersebut memberi bukti visual yang membantu
pembaca memahami konteks. Guru dapat mengajarkan etika pengambilan gambar agar
siswa menghargai privasi. Latihan ini menjadi bagian penting dalam pendidikan
literasi digital. Anak belajar bahwa berita bukan sekadar tulisan, tetapi juga
tanggung jawab. Kegiatan ini sekaligus menumbuhkan rasa bangga atas karya
mereka. Semua ini menjadikan WhatsApp sebagai media visual-literer yang efektif.
Berita kecil versi anak SD dapat menjadi bahan diskusi
dalam grup. Siswa dapat saling bertanya dan memberi komentar dengan bahasa yang
sopan. Aktivitas ini mengembangkan kemampuan komunikasi dan keberanian
menyampaikan pendapat. Guru mengarahkan agar diskusi berlangsung sehat dan
menghargai perbedaan pandangan. Interaksi semacam ini melatih anak memproses
informasi secara kritis. Diskusi juga memperkaya sudut pandang anak tentang
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, WhatsApp menjadi ruang dialog yang edukatif.
Orang tua juga berperan dalam mendampingi anak membuat
berita sederhana. Mereka dapat membantu anak memilih peristiwa dan memeriksa
isi berita sebelum dikirim. Kebersamaan ini memperkuat hubungan keluarga dalam
proses belajar. Guru dapat memberikan panduan agar pendampingan tidak
mengurangi kemandirian anak. Dengan kolaborasi ini, kualitas berita kecil yang
dikirim menjadi lebih baik. Anak pun merasakan dukungan positif dari lingkungan
terdekat. Kegiatan ini menjadikan pembelajaran lebih menyentuh kehidupan
keluarga.
Melalui WhatsApp, anak dapat belajar menyampaikan
informasi secara sistematis dan bertanggung jawab. Kegiatan membuat berita
sederhana membantu menguatkan literasi sejak dini. Guru memperoleh ruang untuk
memberikan umpan balik yang cepat dan terarah. Anak merasa gembira karena karya
mereka diapresiasi oleh guru dan teman. WhatsApp menjadi sarana belajar yang
dekat, ringan, namun bermakna. Pembelajaran jurnalistik kecil ini menumbuhkan
kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan demikian, WhatsApp layak dijadikan
media penunjang literasi di sekolah dasar.
Penulis:
Della Octavia C. L