WhatsApp Web untuk Kolaborasi Rumah–Kelas
Tidak semua anak memiliki
ponsel, tetapi banyak keluarga punya laptop di rumah. Situasi ini menciptakan
peluang baru—siswa tetap dapat belajar dan terhubung dengan guru tanpa harus
memegang perangkat pribadi yang penuh risiko. WhatsApp Web, yang selama ini
dianggap sekadar versi layar besar dari aplikasi chatting, tiba-tiba menjadi jembatan
digital yang mendukung keberlanjutan pembelajaran di rumah.
Bayangkan seorang anak yang
mengerjakan proyek matematika “Bangun Datar di Sekitar Kita”. Guru mengirim
instruksi dan contoh gambar melalui grup kelas. Sang anak membuka WhatsApp Web
di laptop, memperhatikan detail tugas dalam layar yang lebih lebar, lalu
memotret hasil pekerjaannya menggunakan ponsel orang tua untuk dikirim kembali.
Bukan hanya tugas yang selesai—anak juga belajar mengelola file,
mengirim dokumen, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Satu hal menarik: dengan
WhatsApp Web, peran orang tua hadir lebih dekat dalam proses belajar. Mereka
dapat melihat pesan guru secara real time, memahami tenggat waktu tugas, dan
bahkan membantu mengunggah hasil kerja anak. Komunikasi menjadi lebih terbuka
dan kolaboratif. Ketika pembelajaran berjalan di antara rumah dan sekolah, transparansi
menjadi kunci kepercayaan.
Namun, tentu saja ada tantangan.
Laptop orang tua tidak selalu tersedia. Notifikasi pribadi dapat bercampur
dengan pesan sekolah. Beberapa orang tua mungkin kurang memahami keamanan
digital dan rentan salah klik tautan mencurigakan. Maka, guru perlu memberikan
arahan sederhana yang jelas: cara login aman, cara membuat folder khusus tugas,
dan kapan anak boleh menggunakan perangkat.
Pada akhirnya, WhatsApp Web
bukan tentang teknologi itu sendiri. Ia menjadi bukti bahwa pembelajaran
fleksibel dapat terwujud bahkan dengan alat yang sangat sederhana. Yang
dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bekerja sama—guru yang membuka akses, orang
tua yang mendampingi, dan anak yang belajar mengambil peran aktif. Ketika
laptop keluarga menjadi pintu masuk ke sekolah, pendidikan tidak lagi terbatas
ruang dan jam pelajaran. Ia hadir tepat di meja ruang tamu—di antara keluarga
yang saling mendukung perjalanan belajar.
Penulis: Windha Ana Sevia