“YouTube Classroom for SDGs: Transformasi Pembelajaran Sekolah Dasar Menuju Generasi Digital yang Peduli Bumi”
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebuah sekolah dasar di Surabaya menarik perhatian publik setelah meluncurkan program inovatif berjudul “YouTube Classroom for SDGs,” yang menggabungkan platform YouTube sebagai media pembelajaran aktif mengenai isu-isu keberlanjutan global. Program ini dikembangkan untuk membantu siswa memahami 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui tayangan video, proyek kreatif, serta produksi konten digital sederhana. Setiap minggu, siswa diajak menonton dan mendiskusikan video edukatif YouTube tentang air bersih, energi terbarukan, pengurangan sampah, hingga pentingnya perdamaian. Metode ini membuat siswa lebih cepat memahami isu dunia karena visual dan cerita nyata jauh lebih mudah dicerna oleh anak usia sekolah dasar. Kehadiran YouTube sebagai bagian dari pembelajaran pun menghadirkan pengalaman belajar baru yang membuat anak lebih antusias.
Guru tidak hanya mengajak siswa menonton video edukatif, tetapi juga membimbing mereka menganalisis isi video menggunakan pertanyaan kritis yang sederhana namun mendalam. Siswa diminta menjawab mengapa masalah lingkungan bisa terjadi, solusi apa yang mungkin dilakukan, dan bagaimana peran mereka sebagai anak-anak. Setelah berdiskusi, siswa kemudian menyimpulkan nilai-nilai SDGs yang relevan dan mempresentasikan pendapat mereka dalam kelompok kecil. Proses ini mengasah keterampilan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi anak. Bahkan siswa yang biasanya pemalu mulai berani menyampaikan pendapat karena media video memudahkan mereka memahami konteks dan membangun rasa percaya diri.
Inovasi terbesar dalam program ini adalah kegiatan “Young YouTubers for SDGs,” di mana siswa secara berkelompok membuat video kampanye pendek yang mengangkat isu SDGs pilihan mereka. Dengan bimbingan guru, siswa belajar membuat skrip sederhana, merekam video menggunakan kamera sekolah, bahkan melakukan penyuntingan dasar melalui aplikasi ramah anak. Mereka membuat beragam konten, mulai dari tutorial daur ulang, ajakan hemat listrik, hingga cerita bergambar tentang pentingnya menghentikan bullying. Semua video tersebut kemudian diunggah ke kanal YouTube sekolah sebagai bentuk kontribusi siswa terhadap kesadaran publik. Kegiatan ini memberikan ruang bagi kreativitas sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab sosial sejak dini.
Program ini juga melibatkan orang tua dengan cara mengadakan acara bulanan bertajuk “SDGs Screening Day,” di mana karya video siswa diputar dan didiskusikan bersama. Orang tua dapat melihat perkembangan kreativitas anak sekaligus belajar tentang SDGs dari sudut pandang anak-anak. Banyak orang tua mengaku bangga karena anak mereka mulai menerapkan kebiasaan ramah lingkungan di rumah, seperti memilah sampah, menghemat air, dan mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, sekolah memfasilitasi pelatihan singkat bagi orang tua tentang cara mendampingi anak menggunakan YouTube secara positif dan aman. Kolaborasi ini membuat program berjalan lebih kuat dan memberi dampak nyata bagi keluarga.
Kesuksesan “YouTube Classroom for SDGs” membuat program ini menjadi percontohan bagi beberapa sekolah dasar lain di kota tersebut. Dinas pendidikan bahkan berencana memperluas program ini untuk mendukung literasi digital dan pendidikan lingkungan secara lebih luas. Kepala sekolah berharap bahwa integrasi YouTube sebagai media pembelajaran tidak hanya memperkaya metode mengajar, tetapi juga menumbuhkan generasi yang kreatif, peduli, dan sadar akan isu global. Dengan semakin banyaknya siswa yang berani membuat kampanye keberlanjutan melalui video, sekolah ini berhasil membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat kuat untuk menanamkan nilai-nilai SDGs sejak dini. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan masa kini dapat memadukan kreativitas digital dan kepedulian lingkungan dalam satu langkah besar yang inspiratif.
###
Penulis: Nindiana Eva Rosa Amalia
Dokumentasi: Google