YouTube dan Keterampilan Memperbaiki: Literasi Teknis Sederhana untuk Anak SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap barang milik sendiri sekaligus mengenalkan budaya memperbaiki (repair culture) sejak usia dini merupakan bagian penting dari konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, sebagaimana ditekankan dalam SDG 12. Di sekolah dasar, pemanfaatan platform YouTube dapat menjadi sarana belajar visual yang efektif untuk mengenalkan keterampilan teknis sederhana kepada siswa, seperti menambal buku yang sobek, memperbaiki mainan rusak, atau merakit kembali alat belajar sederhana yang sering digunakan di kelas. Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa kerusakan bukan selalu akhir dari fungsi suatu barang.
Guru dapat berperan aktif dengan menyeleksi konten YouTube yang sesuai dengan usia dan konteks siswa. Video tutorial yang dipilih biasanya berdurasi singkat, menggunakan bahasa sederhana, serta menampilkan langkah-langkah yang jelas dan mudah ditiru, misalnya cara memperbaiki resleting tas sekolah atau menguatkan kembali sampul buku tulis. Melalui visualisasi yang konkret, siswa lebih mudah memahami proses perbaikan dibandingkan hanya melalui penjelasan lisan atau teks tertulis, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna.
Kegiatan meniru dan mempraktikkan tutorial dari YouTube secara langsung melatih keterampilan motorik halus siswa serta kemampuan mereka dalam memecahkan masalah teknis sederhana. Siswa belajar mengidentifikasi penyebab kerusakan, menentukan alat yang dibutuhkan, dan mengikuti urutan kerja dengan cermat. Keberhasilan memperbaiki suatu benda, meskipun sederhana, memberikan pengalaman emosional positif yang memperkuat rasa percaya diri dan kemandirian anak.
Selain aspek keterampilan, kegiatan ini juga mengandung nilai ekonomi dan lingkungan yang penting. Siswa mulai memahami bahwa memperbaiki barang dapat menghemat pengeluaran dan mengurangi sampah, sehingga mendukung upaya pelestarian lingkungan. Diskusi kelas dapat diarahkan pada perbandingan antara memperbaiki dan membeli barang baru, serta dampaknya terhadap lingkungan dan sumber daya alam, sehingga siswa memiliki kesadaran kritis terhadap kebiasaan konsumtif.
Dengan menjadikan YouTube sebagai media pembelajaran keterampilan teknis, sekolah dasar tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk sikap bertanggung jawab dan solutif pada diri siswa. Pembelajaran ini menumbuhkan maker mindset sejak dini, yaitu kebiasaan untuk mencoba, memperbaiki, dan tidak mudah menyerah, yang sangat relevan dengan kebutuhan kehidupan di masa depan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia