AI Generatif dan Transformasi Pembelajaran di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Kemunculan AI generatif seperti ChatGPT telah memicu perdebatan sengit mengenai masa depan pendidikan dasar. Banyak yang khawatir bahwa teknologi ini dapat menggantikan peran guru dan mengurangi kreativitas anak. Namun, penelitian mutakhir justru menunjukkan bahwa AI dapat berfungsi sebagai cognitive scaffold yang memperkaya pengalaman belajar. Di sekolah dasar, AI dapat membantu anak memahami konsep sulit melalui visualisasi, simulasi, dan dialog interaktif. Dengan demikian, AI bukan ancaman, tetapi peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif.
Di tengah isu bencana Aceh dan Sumut, AI juga dapat digunakan untuk mengajarkan literasi kebencanaan dengan lebih efektif. Teknologi ini dapat mensimulasikan situasi darurat sehingga anak memahami konteks nyata tanpa membahayakan diri. Guru dapat memanfaatkan AI untuk membuat skenario interaktif yang memicu diskusi kelas tentang pengambilan keputusan. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip learning by doing yang sangat relevan bagi siswa sekolah dasar. AI, jika digunakan bijak, dapat memacu kesiapsiagaan generasi muda.
Meskipun demikian, transformasi digital tidak boleh dilakukan secara serampangan. Sekolah perlu memastikan bahwa penggunaan AI tetap mengutamakan nilai-nilai humanis dalam pendidikan. Guru berperan penting sebagai kurator, evaluator, sekaligus penjaga etika penggunaan teknologi. Tanpa pendampingan guru, AI berpotensi menghasilkan miskonsepsi atau ketergantungan berlebihan. Karena itu, integrasi AI harus diseimbangkan dengan literasi digital kritis pada anak.
Tantangan lainnya adalah ketimpangan akses teknologi yang masih nyata antara sekolah perkotaan dan pedesaan. Dalam konteks Aceh dan Sumut yang beberapa wilayahnya terdampak bencana, infrastruktur digital masih sulit stabil. Pemerataan akses menjadi syarat mutlak agar teknologi tidak memperdalam ketidaksetaraan pendidikan. Pemerintah, komunitas, dan sektor swasta perlu bekerja sama menyediakan fasilitas yang layak. Kesetaraan dalam pendidikan digital merupakan hak dasar setiap anak Indonesia.
Pada akhirnya, AI generatif membuka babak baru bagi pendidikan dasar yang lebih personal, kreatif, dan kontekstual. Anak dapat belajar sesuai gaya, ritme, dan minatnya melalui pendampingan teknologi. Guru pun dapat lebih fokus pada aspek afektif dan penguatan karakter yang tidak bisa digantikan mesin. Dengan pengelolaan yang cermat, AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menyiapkan anak menghadapi dunia yang terus berubah. Oleh sebab itu, integrasi AI harus dilihat sebagai investasi peradaban, bukan sekadar tren digital.
####
Penulis: Aida Meilina