Ancaman Predator Digital di Balik Interaksi Game Online Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Permainan daring telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup siswa sekolah dasar saat ini sebagai sarana hiburan dan sosialisasi. Namun, di balik keseruan interaksi antarpemain, terdapat ancaman predator digital yang mengintai dengan memanfaatkan kenaifan anak-anak kita. Ruang percakapan dalam permainan daring sering kali menjadi pintu masuk bagi perundungan siber yang sangat agresif dan tidak terkontrol. Para pelaku menggunakan bahasa kasar, penghinaan rasis, hingga ancaman kekerasan untuk mengintimidasi pemain lain yang lebih muda. Ketidakmampuan anak dalam menyaring informasi dan interaksi asing membuat mereka menjadi target empuk bagi perilaku menyimpang tersebut.
Dinamika dalam dunia permainan daring sering kali menuntut pemain untuk memiliki kompetensi tertentu yang memicu munculnya perundungan terhadap pemain pemula. Anak-anak yang tidak mampu memenuhi standar permainan tertentu sering kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari rekan setim maupun lawan main. Hal ini menyebabkan anak merasa rendah diri dan terasing dari komunitas sosial yang seharusnya menjadi tempat mereka belajar bekerja sama. Predator digital juga sering kali memanipulasi emosi anak dengan memberikan iming-iming hadiah virtual untuk mendapatkan data pribadi atau foto yang tidak pantas. Kurangnya literasi keamanan digital pada anak menjadi faktor utama meningkatnya kerentanan mereka terhadap eksploitasi di platform hiburan tersebut.
Peran orang tua dalam mengawasi jenis permainan dan interaksi di dalamnya menjadi sangat vital guna mencegah terjadinya paparan konten negatif. Banyak orang tua yang merasa tenang saat anaknya diam di rumah bermain gawai tanpa menyadari adanya bahaya yang mengancam di dunia virtual. Pemahaman mengenai fitur kontrol orang tua pada setiap perangkat harus dikuasai dengan baik agar akses terhadap konten berbahaya dapat dibatasi secara otomatis. Selain itu, komunikasi dua arah antara orang tua dan anak mengenai pengalaman bermain harus dibangun secara intensif dan tanpa tekanan. Dengan demikian, anak akan merasa nyaman untuk menceritakan segala bentuk keganjilan atau ancaman yang mereka temui saat sedang bermain.
Sekolah juga dapat mengambil peran dengan mengedukasi siswa mengenai konsep kewarganegaraan digital yang mencakup etika saat berada dalam permainan daring. Materi pembelajaran harus mencakup cara mengidentifikasi perilaku tidak sehat dan langkah-langkah untuk melakukan pelaporan pada pengembang permainan. Guru dapat mengajak siswa berdiskusi mengenai perbedaan antara persaingan yang sehat dengan tindakan perundungan yang melanggar hak orang lain. Penguatan nilai-nilai sportivitas perlu ditekankan kembali agar anak-anak memahami bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh level permainan mereka. Sinergi antara edukasi teknis dan edukasi moral akan membentuk perisai yang kuat bagi keamanan anak di dunia permainan.
Kesimpulan dari ulasan ini adalah bahwa waspada terhadap ancaman digital merupakan sebuah keharusan di tengah arus teknologi yang tidak terbendung. Kita tidak bisa melarang anak sepenuhnya dari dunia digital, namun kita wajib membekali mereka dengan kemampuan untuk memproteksi diri sendiri. Setiap interaksi di balik layar harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan saling menghargai yang dijunjung tinggi dalam budaya kita. Predator digital hanya akan kehilangan kekuatannya jika kita membangun kesadaran kolektif untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan virtual. Mari jadikan dunia digital sebagai ruang tumbuh kembang yang sehat dan menginspirasi bagi masa depan anak bangsa yang lebih cerah.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.