Antara Notifikasi dan Nalar yang Perlu Dijaga
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bunyi notifikasi sering datang tanpa aba-aba. Ia memecah fokus dan menarik perhatian seketika. Banyak orang terbiasa merespons sebelum sempat berpikir. Kebiasaan ini perlahan membentuk cara berinteraksi dengan informasi. Literasi digital hadir untuk mengembalikan kendali pada nalar. Kemudahan akses informasi adalah berkah besar. Beragam pengetahuan tersedia dalam hitungan detik. Namun banjir informasi juga membawa risiko. Tanpa kemampuan memilah, informasi berubah menjadi kebisingan. Literasi digital menolong pengguna menata arus ini.
Di ruang digital, perhatian menjadi komoditas. Konten dirancang agar sulit diabaikan. Judul provokatif dan visual mencolok menjadi senjata utama. Literasi digital mengajarkan kesadaran atas strategi ini. Dengan begitu, pengguna tidak mudah terpancing.
Kebiasaan membaca cepat sering mengorbankan pemahaman. Artikel dipindai, bukan diselami. Video ditonton sambil lalu, bukan direnungkan. Literasi digital mengajak kembali pada membaca mendalam. Ia menumbuhkan kebiasaan memahami, bukan sekadar tahu.
Selain aspek kognitif, literasi digital juga menyentuh kesehatan mental. Perbandingan sosial di media daring dapat memicu tekanan. Tanpa literasi, pengguna mudah terjebak ilusi kesempurnaan. Literasi digital membantu membedakan realitas dan representasi. Kesadaran ini menenangkan.
Literasi digital juga berkaitan dengan waktu. Tanpa kontrol, layar menyerap jam demi jam. Pengguna merasa sibuk, tetapi tidak produktif. Literasi digital mengajarkan pengelolaan waktu daring. Teknologi kembali menjadi alat, bukan penguasa.
Dengan literasi, notifikasi tidak lagi memimpin. Nalar kembali memegang kendali. Setiap interaksi menjadi pilihan sadar. Inilah inti dari kecakapan digital yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, melek digital adalah seni menjaga keseimbangan. Antara cepat dan cermat. Antara terhubung dan reflektif. Di sanalah teknologi menemukan makna terbaiknya.
Penulis: Resinta Aini Z.