Budaya Instan dan Menurunnya Daya Tahan Intelektual
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Daya tahan intelektual merupakan kemampuan untuk bertahan dalam proses berpikir yang panjang dan menantang. Pada generasi Z, kemampuan ini menghadapi tekanan kuat dari budaya instan. Segala sesuatu didorong untuk selesai cepat dan praktis. Proses berpikir yang rumit dianggap melelahkan. Ketekunan dalam mengurai persoalan perlahan memudar. Budaya instan membentuk kebiasaan menghindari kerumitan. Akibatnya, daya tahan intelektual menjadi rapuh. Fenomena ini berpengaruh langsung pada kualitas belajar jangka panjang.
Budaya instan menanamkan keinginan akan solusi cepat. Generasi Z terbiasa mencari jawaban instan tanpa proses analisis mendalam. Ketika persoalan menuntut pemikiran berlapis, muncul rasa enggan. Daya tahan berpikir tidak terlatih. Ketekunan kalah oleh dorongan efisiensi.
Menurunnya daya tahan intelektual juga terlihat dari kesulitan menjaga fokus. Proses berpikir panjang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan. Namun budaya instan membiasakan perpindahan cepat antar aktivitas. Fokus terpecah sebelum pemahaman terbentuk. Ketekunan berpikir menjadi semakin langka.
Selain itu, budaya instan memengaruhi sikap terhadap kompleksitas. Kompleksitas dipandang sebagai hambatan, bukan tantangan. Generasi Z cenderung menyederhanakan persoalan secara berlebihan. Ketika realitas tidak sederhana, muncul frustrasi. Daya tahan intelektual tidak cukup kuat untuk bertahan.
Ketekunan intelektual tumbuh dari kebiasaan menghadapi kesulitan berulang. Namun budaya instan mengurangi kesempatan tersebut. Kesulitan sering dihindari dengan jalan pintas. Proses pembelajaran kehilangan fase pentingnya. Ketahanan mental ikut melemah.
Menguatkan kembali daya tahan intelektual memerlukan perubahan orientasi. Proses berpikir perlu dihargai sebagai tujuan, bukan sekadar alat. Generasi Z perlu belajar menikmati tantangan kognitif. Ketekunan harus dipandang sebagai kekuatan intelektual.
Jika budaya instan terus mendominasi tanpa penyeimbang, daya tahan intelektual akan semakin menurun. Belajar kehilangan kedalaman dan ketajaman. Ketekunan adalah fondasi berpikir kritis. Tanpa itu, generasi Z akan kesulitan menghadapi persoalan kompleks di masa depan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah