S2 Dikdas UNESA Merancang Kurikulum Masa Depan Demi Pencapaian Target SDGs di Indonesia
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program
Studi Magister Pendidikan Dasar (S2 Dikdas) Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
resmi menginisiasi transformasi kurikulum berbasis keberlanjutan dalam forum East
Java Education Summit di Kampus Lidah Wetan. Langkah strategis ini diambil
sebagai bentuk respons nyata mahasiswa pascasarjana terhadap tantangan global
dalam mengejar target Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat,
yakni pendidikan berkualitas yang inklusif. Melalui kolaborasi riset mendalam,
para mahasiswa S2 Dikdas UNESA mengintegrasikan konsep eco-literacy dan
digitalisasi ke dalam modul ajar sekolah dasar, membuktikan bahwa inovasi
akademis dari Surabaya mampu menjadi barometer transformasi pendidikan
nasional.
Urgensi keterlibatan mahasiswa S2 Dikdas UNESA dalam perancangan
kurikulum ini didasari oleh temuan lapangan yang menunjukkan masih rendahnya
pemahaman guru SD terhadap implementasi nilai-nilai SDGs dalam pembelajaran
kelas. Berdasarkan data internal pusat studi literasi, diperlukan akselerasi
metode pembelajaran yang tidak hanya fokus pada kognitif, tetapi juga pada
pembentukan karakter peduli lingkungan (green skills). Para peneliti
muda dari UNESA memandang bahwa kurikulum pendidikan dasar saat ini harus
melampaui batas-batas tekstual. Dengan menempatkan mahasiswa pascasarjana
sebagai arsitek kurikulum, rancangan baru ini didesain lebih adaptif terhadap
isu perubahan iklim dan kesenjangan sosial yang menjadi inti dari agenda
pembangunan 2030.
Secara substansial, kurikulum hasil rancangan S2 Dikdas UNESA ini
menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) yang
diselaraskan dengan 17 tujuan SDGs. Sebagai contoh, konsep matematika di
tingkat SD kini diajarkan melalui proyek pengelolaan sampah sekolah, sementara
literasi bahasa difokuskan pada narasi empati sosial. Salah satu pakar
pendidikan dasar di Surabaya, menegaskan bahwa keterlibatan level magister
dalam merancang kurikulum sekolah dasar adalah kunci efektivitas kebijakan.
Menurutnya, mahasiswa S2 memiliki kedalaman teoretis sekaligus kepekaan praktis
untuk membedah hambatan birokrasi pendidikan yang selama ini sering menghambat
inovasi di tingkat sekolah dasar.
Selain penguatan materi akademik, kurikulum ini memberikan porsi
signifikan pada pengembangan kesehatan mental dan "mental baja" siswasebuah
poin krusial dalam SDG nomor tiga. Mahasiswa S2 Dikdas UNESA menyisipkan
pendekatan Growth Mindset yang mengajarkan anak-anak sekolah dasar untuk
melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan akhir dari
segalanya. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas tingginya tingkat
kecemasan akademik di kalangan siswa dasar. Dengan membangun fondasi mental
yang kuat sejak dini, UNESA berupaya mencetak generasi yang tangguh dan
memiliki daya lenting tinggi dalam menghadapi dinamika global yang penuh
ketidakpastian.
Implementasi strategi ini di Surabaya juga melibatkan sinergi dengan
sekolah-sekolah laboratorium (Labschool) UNESA sebagai pilot project sebelum
didiseminasikan ke tingkat nasional. Tantangan terbesar memang terletak pada
kesiapan adaptasi guru senior, namun tim S2 Dikdas telah menyiapkan program
pendampingan intensif bernama "SDG Teacher Bootcamp". Fakta di
lapangan menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan elemen pembelajaran berbasis
proyek SDGs rancangan UNESA mengalami peningkatan signifikan dalam kreativitas
siswa sebesar 35%. Sinergi antara akademisi pascasarjana dan praktisi di
sekolah dasar diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih
sehat dan relevan.
Sebagai penutup, peran aktif S2 Dikdas UNESA dalam merancang kurikulum
masa depan adalah bukti nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap keberhasilan
SDGs 2030 di Indonesia. Transformasi ini bukan sekadar perubahan dokumen
formal, melainkan upaya rekonstruksi pola pikir generasi mendatang agar lebih
peduli terhadap keberlanjutan bumi. Jika model kurikulum dari Surabaya ini
diadopsi secara luas, Indonesia berpeluang besar melahirkan SDM unggul yang
tidak hanya kompetitif secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas
moral untuk menjaga dunia tetap layak huni bagi generasi berikutnya.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah