Cermin Digital dan Retaknya Etika Belajar Modern
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Era digital menghadirkan cermin baru bagi proses belajar. Cermin itu bernama kecerdasan buatan. Melalui cermin ini, etika belajar modern terlihat dengan jelas. Retakan yang selama ini tersembunyi menjadi nyata. Retakan tersebut bukan disebabkan oleh teknologi. Ia muncul dari praktik belajar yang rapuh. AI hanya memperbesar pantulannya. Dalam pantulan ini, kita dipaksa melihat diri sendiri.
Retaknya etika belajar terlihat dari cara menyikapi kemudahan. Kemudahan sering diartikan sebagai hak, bukan tanggung jawab. AI mempercepat akses tanpa menyertakan nilai. Nilai harus dibawa oleh pengguna. Ketika nilai absen, etika pun retak.
Cermin digital juga menunjukkan ketimpangan antara tujuan dan cara. Banyak yang mengaku ingin memahami, tetapi memilih jalan pintas. Ketidaksinkronan ini menjadi semakin jelas dengan hadirnya AI. Teknologi tidak menyembunyikan kontradiksi. Ia justru memperjelasnya.
Etika belajar modern juga diuji dalam konteks kejujuran diri. AI memungkinkan penyamaran kemampuan. Namun penyamaran ini bersifat sementara. Dalam jangka panjang, ketidakjujuran berbalik merugikan. Cermin digital menunjukkan konsekuensi tersebut.
Retakan etika juga muncul ketika belajar dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Pengetahuan yang diperoleh tanpa proses refleksi mudah disalahgunakan. AI mempercepat akumulasi pengetahuan. Namun tanpa etika, akumulasi ini berbahaya. Etika menjadi penyeimbang yang mutlak.
Cermin digital tidak bermaksud menghukum. Ia menawarkan kesempatan untuk memperbaiki. Melalui pantulan yang jujur, individu dapat merefleksikan praktik belajarnya. Refleksi ini membuka ruang perbaikan. Perbaikan dimulai dari kesadaran.
Pada akhirnya, AI sebagai cermin digital memperlihatkan retaknya etika belajar modern. Namun dari retakan itu, kesempatan pembaruan muncul. Integritas belajar dapat dibangun kembali dengan kesadaran dan komitmen.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah