ChatGPT dan Transformasi Peran Guru Sekolah Dasar dalam Era Kecerdasan Buatan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — ChatGPT hadir sebagai salah satu wujud perkembangan kecerdasan buatan yang mulai memberi pengaruh nyata dalam dunia pendidikan, termasuk pada jenjang Sekolah Dasar. Kehadiran teknologi ini menandai perubahan cara belajar dan mengajar yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada metode konvensional. Guru Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang untuk memanfaatkan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran. Transformasi ini menuntut guru untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi demi meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam era kecerdasan buatan, peran guru Sekolah Dasar mengalami pergeseran dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator dan pembimbing belajar. ChatGPT dapat membantu menyediakan referensi, contoh soal, dan penjelasan tambahan yang mendukung proses belajar siswa. Dengan demikian, guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pendampingan, penguatan karakter, dan pengembangan keterampilan sosial siswa. Perubahan peran ini menegaskan bahwa kehadiran guru tetap tidak tergantikan meskipun teknologi semakin canggih.
ChatGPT juga mendorong guru untuk lebih kreatif dan reflektif dalam merancang pembelajaran yang bermakna. Guru dapat memanfaatkan teknologi ini untuk menyusun materi diferensiasi sesuai kebutuhan dan kemampuan belajar siswa. Selain itu, ChatGPT dapat menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan media, metode, dan evaluasi pembelajaran yang inovatif. Proses ini membantu guru meningkatkan kompetensi profesional sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21.
Namun, transformasi peran guru melalui pemanfaatan ChatGPT juga memerlukan kesiapan literasi digital yang memadai. Guru perlu memahami cara kerja, kelebihan, dan keterbatasan kecerdasan buatan agar penggunaannya tetap etis dan bertanggung jawab. Pengawasan terhadap konten dan hasil yang dihasilkan ChatGPT menjadi tanggung jawab guru agar sesuai dengan nilai-nilai pendidikan dan perkembangan anak. Dengan pemahaman yang baik, risiko penyalahgunaan teknologi dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, ChatGPT dan kecerdasan buatan tidak menggantikan peran guru, melainkan memperkuat perannya dalam proses pendidikan. Guru Sekolah Dasar tetap menjadi sosok utama dalam membentuk karakter, sikap, dan nilai moral siswa yang tidak dapat dilakukan oleh mesin. Kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan membuka peluang terciptanya pembelajaran yang lebih efektif dan humanis. Dengan sikap terbuka dan bijak, guru dapat memanfaatkan ChatGPT sebagai mitra strategis dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital.
###
Penulis: Sabila Widyawati