Cuaca dan Energi Terbarukan di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya— Pembelajaran tentang cuaca tidak hanya penting untuk memahami fenomena alam, tetapi juga dapat dikaitkan dengan konsep energi terbarukan. Sinar matahari, angin, dan hujan merupakan sumber energi alam yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Guru dapat mengenalkan siswa pada pemanfaatan energi surya atau angin melalui eksperimen sederhana, video edukatif, atau proyek mini di kelas. Pendekatan ini membuat siswa memahami hubungan antara cuaca dan energi sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan.
Siswa dapat belajar mengamati cuaca harian dan mengaitkannya dengan potensi energi. Misalnya, mereka bisa mencatat jam-jam terik matahari dan memprediksi kapan panel surya sekolah akan menghasilkan energi maksimal. Guru dapat meminta siswa membuat diagram sederhana atau catatan pengamatan tentang potensi energi yang bisa diperoleh dari cuaca. Aktivitas ini melatih keterampilan observasi, analisis, dan berpikir kritis sejak usia dini.
Selain itu, guru dapat menampilkan video atau animasi tentang turbin angin, panel surya, atau bendungan mini yang memanfaatkan air hujan. Setelah menonton, siswa bisa membuat proyek mini, seperti model turbin angin dari kertas atau panel surya mini untuk menghidupkan lampu LED. Aktivitas ini menggabungkan teori, praktek, dan kreativitas, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan interaktif.
Guru juga dapat mengajak siswa berdiskusi tentang pentingnya menggunakan energi terbarukan dan menjaga lingkungan. Pertanyaan reflektif seperti “Bagaimana cuaca memengaruhi energi yang kita gunakan?” atau “Apa yang bisa kita lakukan di rumah dan sekolah untuk menghemat energi?” mendorong siswa berpikir kritis dan memahami dampak manusia terhadap lingkungan sekitar.
Pemanfaatan cuaca untuk edukasi energi terbarukan mendukung SDGs poin 4, pendidikan berkualitas, inklusif, dan merata, serta SDGs poin 7, akses energi bersih dan terjangkau. Siswa belajar memahami fenomena alam sekaligus mengembangkan kreativitas dan keterampilan literasi digital. Dengan pendekatan ini, pembelajaran menjadi relevan, interaktif, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya energi bersih sejak dini.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa