Dampak Cuaca terhadap Kesehatan Siswa dan Edukasi Pola Hidup Bersih (PHBS)
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kondisi cuaca yang sering berubah secara mendadak, dari panas terik ke hujan lebat, sangat mempengaruhi kondisi fisik siswa di sekolah. Banyak siswa yang mengalami penurunan imun, sehingga angka ketidakhadiran akibat sakit cenderung meningkat saat musim pancaroba. Hal ini menjadi perhatian sekolah untuk meningkatkan edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dikaitkan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Dengan memantau cuaca besok, sekolah dapat memberikan imbauan dini kepada siswa untuk membawa perlengkapan pelindung dan menjaga asupan nutrisi.
Pendidikan kesehatan di sekolah kini didukung oleh data-data cuaca riil. Guru menggunakan platform YouTube untuk menayangkan video edukasi tentang cara menjaga daya tahan tubuh saat cuaca ekstrem. Informasi yang dikemas secara menarik ini lebih mudah diterima oleh siswa dibandingkan hanya melalui ceramah lisan. Siswa diajak untuk memahami bahwa kesehatan adalah aset utama dalam belajar, dan menjaga kesehatan diri sendiri adalah bagian dari tanggung jawab sebagai pelajar yang berkualitas demi masa depan mereka.
Selain edukasi di sekolah, koordinasi dengan orang tua juga diperketat melalui grup WhatsApp Web. Guru membagikan informasi mengenai menu makanan sehat yang disarankan saat cuaca buruk melanda. Penggunaan teknologi komunikasi ini memastikan bahwa pola hidup sehat yang diajarkan di sekolah juga diterapkan secara konsisten di rumah. Sinergi antara sekolah dan rumah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan anak secara menyeluruh, sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu oleh masalah kesehatan fisik.
Siswa juga ditugaskan untuk membuat kampanye kesehatan sekolah menggunakan Canva. Mereka membuat poster tentang pentingnya mencuci tangan, memakai masker saat sedang flu, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk saat musim hujan. Melalui kreativitas digital ini, siswa belajar menjadi agen perubahan kesehatan di lingkungannya. Pendidikan yang melibatkan aksi nyata ini sangat efektif untuk mengubah perilaku siswa menjadi lebih peduli pada diri sendiri dan lingkungan sekitar di tengah tantangan iklim.
Kesimpulannya, memantau cuaca besok dan dampaknya terhadap kesehatan adalah bagian dari strategi manajemen sekolah yang holistik. Dengan bantuan teknologi informasi dan kreativitas digital, sekolah dapat menciptakan budaya sehat yang kuat di kalangan siswa. Upaya ini tidak hanya meningkatkan produktivitas belajar tetapi juga berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Generasi yang sehat adalah modal utama bagi kemajuan bangsa di masa depan.
###
Penulis: Anisa Rahmawati