Dari Klik ke Makna: Mengarahkan Tontonan Anak Jadi Pembelajaran
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kegiatan mengklik video di YouTube sudah menjadi kebiasaan anak sekolah dasar. Dengan satu sentuhan layar, berbagai tayangan muncul dengan cepat. Anak sering memilih video berdasarkan gambar dan judul yang menarik. Tanpa arahan, tontonan ini bisa berlalu begitu saja. Namun di balik kebiasaan tersebut, tersimpan peluang pembelajaran. Setiap video mengandung informasi yang dapat digali. Anak memiliki rasa ingin tahu alami. Tugas orang dewasa adalah mengarahkan, bukan melarang. Dari aktivitas sederhana ini, proses belajar bisa dimulai. Klik yang tampak sepele dapat menjadi awal makna.
Mengubah tontonan menjadi pembelajaran dimulai dari pendampingan yang tepat. Anak diajak memilih video yang sesuai dengan usianya. Guru dan orang tua memberi contoh cara menonton dengan tujuan. Anak dilatih memperhatikan isi, bukan hanya hiburan. Setelah menonton, anak diajak berdialog. Pertanyaan sederhana membantu anak berpikir. Anak diminta menceritakan kembali apa yang dipahami. Proses ini melatih daya ingat dan pemahaman. Anak belajar menyaring informasi. Tontonan tidak lagi bersifat pasif. Anak menjadi pembelajar aktif.
Setiap video dapat dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari anak. Video tentang alam dapat dikaitkan dengan lingkungan sekitar rumah. Anak belajar mengamati perubahan cuaca. Video tentang hewan dapat dihubungkan dengan hewan yang pernah dilihat anak. Keterkaitan ini membuat pembelajaran lebih nyata. Anak merasa apa yang ditonton tidak jauh dari kehidupannya. Pengetahuan menjadi kontekstual. Anak lebih mudah memahami dan mengingat. Tontonan berubah menjadi bahan refleksi. Anak belajar dari pengalaman visual. Makna terbentuk melalui hubungan dengan dunia nyata.
Proses diskusi setelah menonton menjadi bagian penting pembelajaran. Anak diberi ruang untuk mengemukakan pendapat. Tidak ada jawaban yang langsung disalahkan. Guru mengarahkan percakapan dengan pertanyaan terbuka. Anak belajar berpikir kritis. Mereka belajar mendengarkan teman. Diskusi membantu memperluas sudut pandang. Anak menyadari bahwa satu video dapat dimaknai berbeda. Proses ini memperkaya pemahaman. Anak belajar menghargai perbedaan. Tontonan menjadi sarana dialog yang sehat.
Mengelola tontonan juga membantu menumbuhkan literasi digital sejak dini. Anak belajar bahwa tidak semua informasi harus diterima begitu saja. Guru dapat mengajak anak membedakan fakta dan pendapat. Anak belajar bertanya tentang kebenaran informasi. Proses ini melatih sikap kritis. Literasi digital menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari. Anak tidak hanya mahir menggunakan teknologi. Mereka juga bijak dalam menggunakannya. Tontonan tidak dikonsumsi secara mentah. Anak belajar berpikir sebelum percaya. Makna dibangun melalui proses refleksi. Pendidikan digital dimulai dari hal sederhana.
Guru memiliki peran strategis dalam mengarahkan tontonan di kelas. Video dapat digunakan sebagai pembuka pelajaran. Anak menjadi lebih tertarik mengikuti pembelajaran. Video membantu membangun konteks sebelum materi disampaikan. Anak lebih siap menerima penjelasan. Guru tidak perlu menjadikan video sebagai pusat pembelajaran. Video cukup sebagai alat bantu. Pembelajaran tetap berfokus pada anak. Diskusi dan aktivitas lanjutan memperkuat makna. Guru mengaitkan video dengan tujuan pembelajaran. Proses belajar menjadi terarah dan bermakna.
Di rumah, orang tua juga berperan penting dalam proses ini. Pendampingan sederhana saat anak menonton sangat berarti. Orang tua dapat mengajak anak berbincang santai. Percakapan ringan membantu anak merefleksikan tontonan. Anak merasa diperhatikan. Hubungan orang tua dan anak menjadi lebih dekat. Waktu menonton berubah menjadi waktu berkualitas. Anak belajar bahwa menonton bukan sekadar hiburan. Ada nilai yang bisa dipetik. Kegiatan ini memperkuat pembelajaran di sekolah. Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, mengarahkan tontonan anak adalah tentang membangun makna. Dari klik sederhana, lahir proses belajar yang mendalam. Anak belajar berpikir, bertanya, dan mengaitkan informasi. YouTube tidak lagi sekadar hiburan. Ia menjadi sarana pembelajaran kontekstual. Guru dan orang tua berjalan bersama mendampingi anak. Pembelajaran terasa lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. Anak tumbuh sebagai pembelajar aktif. Dari layar kecil, terbentuk pemahaman besar. Di sanalah makna pembelajaran sesungguhnya hadir.
###
Penulis: Della Octavia C. L