Dari Sekadar Pengguna Menjadi Warga Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjadi pengguna teknologi adalah hal yang mudah. Cukup memiliki perangkat dan koneksi. Namun menjadi warga digital membutuhkan kesadaran lebih. Literasi digital mengubah peran ini. Dari konsumen pasif menjadi partisipan bertanggung jawab.
Warga digital memahami hak dan kewajiban. Ia tahu kebebasan berekspresi datang bersama batas etika. Literasi digital menanamkan nilai ini sejak awal. Ruang digital diperlakukan sebagai ruang bersama. Bukan wilayah tanpa aturan.
Di tengah maraknya konten instan, warga digital memilih berpikir. Ia tidak mudah terprovokasi. Literasi digital membekali kemampuan ini. Setiap informasi diuji sebelum dipercaya. Setiap opini disampaikan dengan pertimbangan.
Perubahan peran ini juga memengaruhi cara berinteraksi. Komentar tidak lagi sekadar reaksi emosional. Ia menjadi kontribusi bermakna. Literasi digital menumbuhkan budaya dialog. Perbedaan dihargai, bukan diserang.
Warga digital juga sadar akan dampak jangka panjang. Jejak daring diperlakukan dengan hati-hati. Apa yang diunggah hari ini dipikirkan konsekuensinya. Literasi digital menanamkan pandangan jauh ke depan. Kesadaran ini melindungi diri dan orang lain.
Selain itu, literasi digital mendorong tanggung jawab sosial. Ruang digital bisa menjadi sarana kebaikan. Informasi positif disebarkan dengan niat baik. Literasi digital membuka peluang ini. Teknologi menjadi alat perubahan.
Peralihan dari pengguna ke warga digital tidak terjadi seketika. Ia melalui proses belajar dan refleksi. Literasi digital menjadi jalannya. Dari sanalah kedewasaan digital terbentuk.
Pada akhirnya, melek digital berarti hadir secara utuh di dunia daring. Tidak hanya menggunakan, tetapi juga bertanggung jawab. Ruang digital pun menjadi ruang yang lebih manusiawi. Itulah tujuan tertinggi literasi digital.
Penulis: Resinta Aini Z.