Data Pendidikan sebagai Aset, Bukan Sekadar Arsip
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era digital, data tidak lagi dipandang sebagai catatan pasif. Ia berubah menjadi aset bernilai tinggi yang dapat dianalisis dan dimanfaatkan. Dunia pendidikan turut masuk dalam arus ini dengan cepat. Layanan digital mengumpulkan berbagai jenis informasi dalam satu sistem terpusat. Data akademik, administratif, dan perilaku tersimpan rapi. Di balik keteraturan itu, tersembunyi tanggung jawab besar dalam pengelolaannya. Data bukan sekadar arsip, melainkan amanah.
Banyak layanan digital dirancang untuk memudahkan pengambilan keputusan. Data diolah menjadi laporan dan statistik yang informatif. Kemudahan ini membantu perencanaan dan evaluasi. Namun setiap proses pengolahan membuka potensi risiko baru. Semakin banyak data yang terkumpul, semakin besar pula tanggung jawab keamanannya. Tanpa pengamanan yang kuat, aset berubah menjadi beban.
Di ruang publik digital, pembahasan tentang nilai ekonomi data semakin marak. Konten edukatif di media sosial menjelaskan bagaimana data dapat diperjualbelikan. Diskusi ini membuka mata banyak orang tentang sisi gelap ekonomi digital. Data pendidikan tidak kebal dari logika ini. Ketika data bocor, ia dapat dimanfaatkan di luar konteks aslinya. Risiko ini sering luput dari perhatian.
Keamanan data membutuhkan pendekatan yang sistematis. Tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih. Kebijakan, prosedur, dan kesadaran pengguna memegang peran penting. Tanpa sinergi tersebut, sistem menjadi timpang. Perlindungan data harus dipahami sebagai proses berkelanjutan. Ancaman selalu berkembang mengikuti teknologi.
Sering kali, perhatian lebih besar diberikan pada pengembangan fitur layanan. Aspek keamanan dianggap selesai setelah sistem berjalan. Padahal keamanan perlu diperbarui dan diuji secara berkala. Tanpa pembaruan, celah lama tetap terbuka. Data yang tersimpan menjadi target empuk. Risiko meningkat seiring waktu.
Dalam praktik sehari-hari, pengguna jarang mempertanyakan bagaimana data mereka dikelola. Fokus tertuju pada manfaat langsung yang dirasakan. Sikap ini wajar, tetapi berbahaya jika dibiarkan. Kesadaran kolektif diperlukan untuk mendorong pengelolaan data yang bertanggung jawab. Pendidikan digital seharusnya menanamkan kesadaran ini sejak awal.
Digitalisasi sekolah membawa peluang besar bagi peningkatan layanan. Namun peluang itu datang bersama risiko yang setara. Data sebagai aset perlu dijaga dengan prinsip kehati-hatian. Tanpa perlindungan yang memadai, kemajuan berubah menjadi ancaman. Di sanalah keseimbangan harus dijaga.
Penulis: Resinta Aini Z.