Digitalisasi vs Karakter: Mencari Keseimbangan Warisan Pendidikan SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menutup bulan
Januari, Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengadakan diskusi publik mengenai
"Dilema Digitalisasi" pada sekolah dasar yang kini telah menjangkau
hampir seluruh pelosok daerah. Meskipun akses terhadap teknologi meningkat
pesat, muncul kekhawatiran mendalam mengenai memudarnya penanaman karakter
moral yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan Indonesia. Pertemuan ini
mempertanyakan secara tajam: apakah kita sedang mewariskan kemudahan teknologi
yang kosong, ataukah kita mampu menjadikan teknologi sebagai pengungkit
nilai-nilai luhur bagi generasi masa depan? Refleksi ini menggarisbawahi
pentingnya desain instruksional yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi
juga bermakna secara filosofis dan etis bagi perkembangan mental anak.
Dalam analisis tingkat
tinggi, digitalisasi pendidikan seharusnya dipandang sebagai sarana untuk
mencapai demokratisasi ilmu pengetahuan, bukan tujuan akhir. Namun, fakta di
lapangan menunjukkan risiko fragmentasi perhatian dan penurunan kemampuan
refleksi mendalam di kalangan siswa SD akibat keterpaparan layar yang
berlebihan. Pendidikan yang ideal di masa depan adalah sistem "Hybrid
Learning" yang mampu mengambil kecepatan teknologi namun tetap
mempertahankan kedalaman interaksi manusia. Kita harus memastikan bahwa
anak-anak kita tidak menjadi "yatim piatu digital" yang memiliki alat
namun kehilangan arah moral dalam menggunakannya. Pewarisan literasi digital
yang bertanggung jawab menjadi agenda mendesak yang harus diselesaikan segera.
Data dari berbagai studi
longitudinal menunjukkan bahwa karakter seperti kejujuran, ketekunan, dan rasa
hormat tetap merupakan modal sosial utama dalam ekonomi masa depan yang
berbasis kepercayaan. Pendidikan dasar harus menjadi tempat persemaian nilai-nilai
ini melalui pengalaman belajar yang nyata, bukan sekadar teori di buku teks.
Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam
aktivitas digital siswa sehingga integritas tetap terjaga meskipun dalam ruang
siber yang tanpa batas. Akhir Januari ini menjadi pengingat bahwa teknologi
adalah pelayan yang baik, namun tuan yang buruk jika tidak dikendalikan oleh
karakter yang kuat sejak usia dini.
Selain itu, warisan
pendidikan yang kita bangun harus mampu mengatasi kesenjangan akses yang masih
lebar antara sekolah di perkotaan dan perdesaan. Digitalisasi yang tidak
inklusif hanya akan melahirkan kasta intelektual baru yang justru memperlebar
jurang ketimpangan sosial di masa depan. Refleksi akhir Januari ini menuntut
komitmen pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan infrastruktur teknologi
menyentuh hingga ke sekolah-sekolah di pelosok. Namun, infrastruktur hanyalah
perangkat keras; kita memerlukan perangkat lunak berupa kurikulum yang
kontekstual dan guru yang mampu menjadi inspirator perubahan di manapun mereka
bertugas. Pemerataan kualitas adalah syarat mutlak bagi warisan pendidikan yang
adil dan berkelanjutan.
Dalam perspektif
sosiopedagogis, anak-anak SD saat ini adalah penduduk asli digital (digital
natives) yang memiliki cara belajar yang sangat berbeda dengan generasi
sebelumnya. Mereka cenderung lebih visual, kolaboratif, dan menyukai umpan
balik instan. Pendidik harus mampu beradaptasi dengan cara kerja otak generasi
ini tanpa harus mengorbankan standar kualitas akademik. Pendidikan yang kita
wariskan harus mampu menyeimbangkan kecepatan akses informasi dengan ketekunan
dalam melakukan riset dan validasi data. Kemandirian berpikir adalah mahkota
dari pendidikan masa depan, yang memisahkan antara manusia yang cerdas secara
mandiri dengan manusia yang hanya menjadi pengikut algoritma.
Dialog antara sekolah dan
rumah juga perlu diperkuat untuk menyelaraskan pola asuh di era digital. Banyak
orang tua merasa kewalahan menghadapi tantangan gadget, sehingga sekolah harus
hadir sebagai mitra strategis dalam memberikan panduan literasi digital
keluarga. Warisan pendidikan yang efektif adalah warisan yang dirawat secara
konsisten di semua lini kehidupan anak, dari ruang kelas hingga meja makan.
Jika kita berhasil menyatukan kecanggihan digital dengan kekokohan karakter,
maka kita sedang menyiapkan generasi pemimpin yang tidak hanya kompeten secara
teknis, tetapi juga bijaksana secara moral. Ini adalah janji masa depan yang
harus mulai kita tunaikan hari ini.
Penutupan artikel ini
menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada pilihan-pilihan
pendidikan yang kita buat saat ini. Akhir Januari 2026 harus menjadi garis
start bagi revitalisasi nilai-nilai karakter dalam setiap bit data yang kita
salurkan ke ruang kelas. Jangan sampai kita mewariskan dunia yang penuh dengan
mesin cerdas, namun miskin manusia yang memiliki hati nurani. Warisan
pendidikan terbaik adalah kombinasi antara otak yang brilian dan hati yang
luhur, yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk menciptakan kebaikan
bagi sesama. Mari kita wariskan semangat untuk terus belajar dan berbuat baik
bagi generasi penerus bangsa yang kita cintai.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah