Disrupsi yang Diabaikan: Kurikulum SD dan Krisis Nalar Kritis di Dunia Maya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Maraknya
perilaku menyimpang anak SD di media sosial menjadi sinyal kuat bahwa ada
lubang besar dalam sistem pendidikan kita: absennya literasi digital dalam
struktur kurikulum formal. Alih-alih melakukan otokritik terhadap metode
pengajaran, banyak pihak justru lebih memilih menyalahkan algoritma yang
dianggap merusak moralitas anak. Namun, argumen ini lemah karena algoritma
tidak akan memiliki daya rusak yang signifikan jika siswa dibekali dengan nalar
kritis dan kemampuan verifikasi yang diajarkan secara konsisten sejak kelas
satu SD.
Data dari berbagai riset
pendidikan menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki akses internet yang
tinggi namun indeks literasi informasinya rendah. Hal ini merupakan kegagalan
sistemik kurikulum yang tidak mampu menerjemahkan kebutuhan zaman ke dalam
materi kelas. Anak diajarkan untuk taat pada instruksi, namun jarang diajak
untuk meragukan dan memeriksa kebenaran dari apa yang mereka lihat di layar
ponsel mereka.
Beban kurikulum yang
terlampau gemuk pada aspek kognitif tradisional membuat aspek literasi digital
terpinggirkan. Padahal, di negara-negara dengan sistem pendidikan maju,
literasi digital sudah disisipkan dalam setiap mata pelajaran, dari matematika
hingga seni. Kurikulum kita perlu melakukan dekonstruksi besar-besaran agar
mampu menjawab tantangan disrupsi informasi yang melanda ruang privat siswa.
Pakar media berpendapat
bahwa algoritma hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat; jika anak tidak
diajarkan untuk mencari hal yang bermanfaat, maka algoritma akan terus
menyuguhkan hal yang dangkal. Kegagalan kurikulum adalah kegagalan dalam
membentuk selera informasi dan ketajaman logika anak. Sekolah harus menjadi
tempat di mana anak belajar mendobrak gelembung informasi (filter bubble)
yang diciptakan oleh algoritma.
Tanggung jawab besar kini
berada di pundak pengambil kebijakan pendidikan untuk segera menyusun standar
kompetensi literasi digital yang jelas. Kita tidak bisa lagi menunggu jatuh
lebih banyak korban dari ketidaktahuan digital di kalangan anak-anak. Berhenti
menyalahkan teknologi, dan mulailah memperbaiki cara kita mendidik manusia di
era teknologi ini.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah