Dosen sebagai Kompas Etika: Mengawal Integritas Moral di Laboratorium Ilmu
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah kecanggihan AI yang mampu melakukan manipulasi data dan plagiarisme halus, peran dosen di Malang kini bergeser menjadi "kompas etika" yang menjaga integritas moral mahasiswa. Persoalan di ruang kuliah saat ini bukan lagi sekadar soal kepintaran akademik, melainkan soal kejujuran dalam berproses. Dosen dituntut untuk tidak hanya menilai kebenaran rumus atau teori, tetapi juga menilai integritas di balik penemuan tersebut. Dalam konteks ini, dosen berdiri sebagai penjaga nalar yang memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak digunakan dengan cara-cara yang merusak nilai-nilai kemanusiaan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa godaan untuk melakukan kecurangan akademik menggunakan AI semakin besar seiring dengan tekanan kompetisi yang tinggi. Mahasiswa seringkali melihat AI sebagai alat untuk "menang" dalam perlombaan nilai, tanpa peduli pada proses kejujuran. Dosen harus hadir untuk mengingatkan bahwa ilmu tanpa etika adalah bahaya bagi masyarakat. Melalui ketegasan dalam menegakkan aturan integritas, dosen sedang mendidik mahasiswa bahwa harga diri seorang intelektual terletak pada kejujurannya, bukan pada seberapa tinggi indeks prestasinya yang didapat melalui jalan pintas algoritma.
Analisis dari pakar etika profesi menekankan bahwa dosen harus menjadi teladan (role model) dalam penggunaan teknologi. Dosen tidak bisa menuntut mahasiswa jujur jika mereka sendiri menggunakan AI secara tidak transparan dalam riset atau penilaiannya. Penjagaan mutu akademik dimulai dari transparansi proses. Dosen harus memberikan bimbingan mengenai batas-batas moral penggunaan AI: kapan ia membantu dan kapan ia merusak orisinalitas. Peran kompas etika ini sangat krusial agar universitas tidak melahirkan sarjana-sarjana korup yang pandai memanipulasi data demi keuntungan pribadi di masa depan.
Sudut pandang profesional dari kalangan industri yang bermitra dengan universitas menyoroti bahwa dunia kerja kini lebih mencari kandidat dengan integritas tinggi daripada sekadar nilai akademik yang sempurna. Perusahaan membutuhkan orang yang bisa dipercaya dalam mengelola data dan mengambil keputusan etis. Dosen yang berfungsi sebagai penjaga nalar dan moral di kampus secara langsung membantu meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja. Penjaminan mutu pendidikan tinggi dengan demikian memiliki dimensi ekonomi dan sosial yang luas, yang berakar pada ketegasan dosen dalam mengawal etika di ruang kuliah.
Dosen juga harus peka terhadap "ketidakadilan algoritma" yang mungkin merugikan mahasiswa tertentu. Sebagai penjaga nalar, dosen harus mengintervensi jika hasil penilaian AI bersifat diskriminatif atau tidak adil. Menjadi pemberi nilai yang bijaksana berarti dosen harus memiliki empati untuk melihat melampaui angka. Dosen harus berani membela mahasiswa yang jujur meski hasilnya tidak sesempurna hasil AI. Langkah ini penting untuk menjaga semangat kejujuran di lingkungan kampus tetap hidup, sehingga mahasiswa tidak merasa bahwa "berbuat curang adalah satu-satunya cara untuk sukses".
Program penguatan karakter di perguruan tinggi harus menempatkan dosen sebagai konselor etika yang mudah diakses oleh mahasiswa. Diskusi tentang dilema moral dalam riset harus menjadi bagian rutin dari kurikulum pascasarjana. Dosen perlu menciptakan ruang aman bagi mahasiswa untuk mengakui kegagalan atau kesulitan mereka tanpa harus takut langsung diberi nilai buruk. Dengan membangun kepercayaan, dosen dapat membimbing mahasiswa menuju kedewasaan moral yang akan menjadi pondasi bagi karir profesional mereka yang panjang dan bermartabat.
Sebagai penutup, dosen sebagai kompas etika adalah pelindung marwah ilmu pengetahuan di era digital. Nilai akademik adalah angka, namun integritas adalah karakter yang abadi. Dosen tidak boleh goyah dalam menegakkan prinsip-prinsip kejujuran meski teknologi menawarkan ribuan kemudahan untuk berpaling. Dengan menjaga nalar dan moral secara bersamaan, dosen sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas di otak, tetapi juga lurus di hati. Masa depan bangsa kita bergantung pada seberapa kuat dosen kita memegang kompas etika ini di tengah badai kecerdasan buatan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah