Etika Digital yang Selalu Datang Terlambat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Perkembangan teknologi digital bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Setiap hari muncul platform, fitur, dan tren baru. Siswa beradaptasi dengan kecepatan yang mengesankan. Namun etika digital sering tertinggal jauh di belakang. Ia baru dibicarakan setelah masalah muncul. Pola reaktif ini membuat etika selalu datang terlambat. Dalam konteks literasi digital, keterlambatan ini menjadi persoalan serius.
Etika digital sering dipahami sebagai respon terhadap pelanggaran. Ketika terjadi konflik atau penyalahgunaan, barulah etika diangkat. Pendekatan ini membuat etika bersifat korektif, bukan preventif. Siswa belajar dari kesalahan, tetapi tidak dibekali kesadaran sejak awal. Literasi digital kehilangan fungsi pencegahannya. Ruang digital pun terus memproduksi masalah serupa.
Keterlambatan etika juga terlihat dalam cara siswa memahami batasan. Banyak yang tidak tahu kapan harus berhenti berbagi atau berkomentar. Kebebasan berekspresi disalahartikan sebagai kebebasan absolut. Tanpa panduan etis yang internal, batas menjadi kabur. Etika yang datang terlambat tidak mampu mencegah dampak awal. Luka sosial sudah terlanjur terjadi.
Budaya digital yang serba cepat memperparah kondisi ini. Siswa terdorong untuk segera merespons tanpa mempertimbangkan nilai. Etika membutuhkan jeda, sementara ruang digital menuntut kecepatan. Ketegangan ini sering dimenangkan oleh kecepatan. Literasi digital yang tidak melatih jeda reflektif membuat etika semakin tertinggal. Akibatnya, kesalahan berulang.
Selain itu, etika digital sering dipersepsikan sebagai aturan eksternal. Ia tidak terinternalisasi sebagai nilai personal. Siswa patuh karena takut sanksi, bukan karena kesadaran. Ketika pengawasan hilang, etika pun menghilang. Literasi digital seharusnya menumbuhkan kompas internal. Tanpa itu, etika selalu rapuh.
Mengatasi keterlambatan etika membutuhkan perubahan cara pandang. Etika harus menjadi bagian integral dari literasi digital sejak awal. Ia perlu hadir dalam setiap aktivitas digital. Siswa perlu dibiasakan bertanya tentang dampak sebelum bertindak. Kesadaran preventif ini jauh lebih efektif.
Etika digital yang hadir tepat waktu mampu membentuk ruang maya yang sehat. Literasi digital tidak lagi sekadar kemampuan teknis. Ia menjadi proses pembentukan sikap dan tanggung jawab. Ketika etika tidak lagi terlambat, ruang digital memiliki peluang untuk berkembang secara bermartabat. Inilah arah yang perlu diperjuangkan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah