From Chalkboard to Canva: Transformasi Guru SD dalam Pembelajaran Berbasis SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai desainer pembelajaran. Canva memberi ruang bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih visual dan interaktif. Dengan bantuan template dan fitur ilustrasi, guru dapat mengubah materi sulit menjadi lebih mudah dipahami anak. Transformasi ini penting karena siswa SD membutuhkan stimulus visual yang konsisten untuk mempertahankan perhatian mereka. Selain itu, pendekatan ini mendukung standar global pendidikan modern. Kontribusinya jelas: meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat literasi digital sejak dini.
Guru dapat menggunakan Canva untuk memperkenalkan materi SDGs secara bertahap dan kontekstual. Misalnya, materi tentang perubahan iklim dapat dipresentasikan dalam bentuk gambar perbandingan suhu bumi atau dampak polusi laut. Visualisasi ini membantu siswa memahami bahwa isu lingkungan bukan konsep abstrak, tetapi sesuatu yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka. Melalui pendekatan ini, guru dapat membangun kesadaran kritis sekaligus menumbuhkan rasa peduli terhadap bumi. Siswa juga dapat diminta membuat poster kampanye sederhana untuk memperkuat pemahaman mereka. Dengan demikian, Canva secara langsung mendukung pembangunan karakter dan kepedulian sosial. Pendidikan dasar pun menjadi ruang awal pembentukan agen perubahan kecil.
Selain itu, Canva juga memperkuat kemampuan pedagogis guru melalui pembelajaran berbasis proyek. Guru dapat merancang aktivitas kelompok, seperti membuat majalah kelas bertema SDGs atau infografis tentang daur ulang sampah. Aktivitas kreatif ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga menciptakan suasana kolaboratif yang menyenangkan. PjBL berbasis Canva terbukti meningkatkan keterlibatan siswa karena mereka merasa menjadi bagian dari proses penciptaan. Guru pun lebih mudah menilai proses berpikir siswa melalui desain yang mereka hasilkan. Ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan kemampuan analitis dan pemahaman konten. Penguatan pedagogis semacam ini sangat penting dalam era pembelajaran modern.
Walaupun demikian, penggunaan Canva tetap memerlukan kesiapan kompetensi guru agar tidak hanya menghasilkan visual menarik tanpa substansi. Guru perlu belajar mengenai prinsip desain edukatif, pemilihan warna, hingga kesesuaian visual dengan tujuan pembelajaran. Jika tidak, Canva bisa menjadi sekadar dekorasi dan tidak memberikan dampak pedagogis signifikan. Selain itu, keterbatasan perangkat di sebagian sekolah dasar menghambat pemerataan pemanfaatan teknologi ini. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu berperan dalam menyediakan fasilitas pendukung. Pelatihan guru dan penyediaan akses teknologi merupakan langkah wajib agar transformasi pembelajaran berjalan merata. Dengan demikian, kualitas pendidikan dapat meningkat tanpa meninggalkan sebagian sekolah.
Pada akhirnya, Canva memberi peluang besar bagi guru SD untuk memperkuat pembelajaran visual dan menanamkan nilai keberlanjutan. Penggunaan Canva bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga pendekatan pedagogis yang membentuk pola pikir baru dalam pembelajaran dasar. Siswa didorong menjadi kreator, bukan sekadar penerima informasi. Ketika visual yang mereka hasilkan berhubungan dengan isu SDGs, mereka sedang belajar tentang dunia nyata sekaligus memahami perannya dalam perubahan sosial. Dengan demikian, Canva menjadi alat strategis yang menyatukan teknologi, kreativitas, dan visi keberlanjutan. Transformasi pendidikan guru SD pun bergerak lebih cepat, lebih relevan, dan lebih berdampak. Ini adalah fondasi penting bagi masa depan pembelajaran yang lebih inklusif.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Sumber: Google