Generasi "Yes-Mom": Dampak Ketergantungan Instruksi pada Resiliensi Anak SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keterlibatan
orang tua yang hiper-aktif melalui "Parenting Remote Control" di grup
WhatsApp telah melahirkan fenomena generasi "Yes-Mom," di mana siswa
sekolah dasar menjadi sangat bergantung pada instruksi orang tua untuk setiap
langkah yang mereka ambil di sekolah. Pola komunikasi digital yang instan
membuat anak kehilangan inisiatif untuk berpikir bagi diri mereka sendiri,
karena mereka terbiasa menunggu "notifikasi" instruksi dari orang tua
mereka yang mendapatkan informasi dari grup wali murid. Dampak paling
mengkhawatirkan dari kondisi ini adalah merosotnya tingkat resiliensi atau
ketangguhan mental anak saat mereka menghadapi situasi yang menuntut
kemandirian dan pemecahan masalah secara cepat di dunia nyata.
Data psikologi ketahanan
menunjukkan bahwa resiliensi dibangun melalui pengalaman menghadapi kesulitan
kecil dan berhasil mengatasinya tanpa bantuan langsung. Namun, grup WhatsApp
orang tua sering kali berfungsi sebagai "bantalan pelindung" yang
menghilangkan semua kesulitan tersebut sebelum sempat menyentuh anak, seperti
saat orang tua membawakan barang yang tertinggal setelah berkoordinasi di grup.
Analisis para pakar menyebutkan bahwa tanpa pengalaman mengatasi hambatan
secara mandiri, anak-anak akan mudah merasa hancur dan tidak berdaya saat
menghadapi kegagalan di kemudian hari karena mereka tidak memiliki "otot
mental" untuk bangkit kembali tanpa bantuan instruksi dari luar.
Fenomena generasi
"Yes-Mom" ini juga terlihat dalam ketidakmampuan anak untuk mengelola
konflik sosial mereka sendiri, karena mereka terbiasa melaporkan segala sesuatu
agar orang tua "menyelesaikan" urusan tersebut di grup WhatsApp. Anak
tidak belajar bagaimana cara meminta maaf, memberikan maaf, atau mempertahankan
diri secara etis karena semua drama sosial telah diambil alih oleh orang dewasa
di ruang pesan singkat. Hal ini menciptakan individu yang secara sosial rapuh
dan kurang memiliki kecerdasan emosional untuk menavigasi kompleksitas hubungan
manusia tanpa panduan jarak jauh dari orang tua mereka.
Dalam jangka panjang,
ketergantungan instruksi ini menghambat transisi anak menuju kemandirian di
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di mana pengawasan orang tua secara fisik
maupun digital biasanya mulai berkurang. Siswa yang terbiasa dikendalikan dari
jarak jauh sering kali mengalami gegar budaya saat mereka harus mengelola
jadwal kuliah atau tanggung jawab kerja secara mandiri karena mereka tidak
pernah melatih sistem navigasi internal mereka sejak usia dasar.
"Parenting Remote Control" mungkin terlihat membantu untuk jangka
pendek dalam mengamankan nilai rapor, namun ia sebenarnya merugikan masa depan
anak dengan merampas keterampilan hidup yang paling fundamental.
Menghentikan fenomena
generasi "Yes-Mom" memerlukan keberanian orang tua untuk membiarkan
anak mereka "merasa sulit" sejenak di sekolah tanpa intervensi
digital instan. Ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas tas sekolahnya,
jadwalnya, dan hubungannya dengan teman secara langsung, bukan melalui
perantara grup WhatsApp. Dengan memberikan kepercayaan kepada anak untuk
memimpin dirinya sendiri, kita sedang membangun fondasi resiliensi yang kokoh,
menjamin bahwa mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan
siap menghadapi tantangan dunia dengan kekuatan mental mereka sendiri yang
otentik.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah