Global Tapi Lokal: Pendidikan yang Mengakar dan Mengudara
S2dikdas.fip.unesa.ac.id. SURABAYA— Di sebuah sekolah dasar di pelosok Sleman,
Yogyakarta, anak-anak duduk melingkar, belajar membuat video pendek tentang
jajanan pasar favorit mereka. Yang menarik, semua narasi video itu disampaikan
dalam bahasa Inggris. Satu sisi mereka memperkenalkan budaya lokal—seperti
klepon, jenang, dan lemper—tapi di sisi lain mereka mengasah kemampuan
berbahasa asing dan menggunakan teknologi digital. Inilah potret nyata
pendidikan masa kini yang tidak lagi terpaku pada sekat antara lokal dan
global. Sebaliknya, keduanya bisa berjalan beriringan—berakar di tanah sendiri,
tapi mampu terbang menembus batas dunia. Inilah esensi dari pendidikan yang
“mengakar dan mengudara”.
Selama bertahun-tahun, dunia
pendidikan Indonesia sering kali dihadapkan pada dilema: apakah harus fokus
memperkuat nilai-nilai lokal atau mendorong siswa bersaing di ranah global?
Dalam praktiknya, keduanya sering terlihat bertabrakan. Sekolah internasional
tumbuh pesat, tapi banyak siswanya yang tidak lagi mengenal budaya daerah.
Sebaliknya, di sekolah-sekolah daerah, kearifan lokal tetap terjaga, namun
siswa merasa minder saat berhadapan dengan tuntutan dunia digital dan
globalisasi.
Padahal, pendidikan tidak perlu
memilih salah satu. Kini saatnya menggabungkan keduanya dalam satu pendekatan:
glokal—global tapi lokal. Pendekatan ini menekankan bahwa siswa bisa menjadi
pribadi yang modern, berdaya saing global, sekaligus tetap mencintai dan
membawa nilai-nilai budaya lokal dalam hidupnya.
Mengapa pendekatan ini penting?
Karena di tengah derasnya arus informasi dan budaya luar, anak-anak mudah
kehilangan jati diri jika tidak dibekali akar yang kuat. Mereka bisa dengan
cepat fasih dalam budaya digital dan internasional, tapi perlahan-lahan lupa
pada bahasa ibu, lagu daerah, bahkan makanan khas sendiri. Tanpa pendidikan
yang mengakar, mereka bisa menjadi generasi yang cerdas tapi tidak mengenal
dirinya.
Di sisi lain, dunia global tidak lagi
hanya menuntut kompetensi, tetapi juga keunikan. Justru di era ini, budaya
lokal bisa menjadi kekuatan yang membedakan. Siswa yang mampu memperkenalkan
wayang kulit lewat podcast berbahasa Inggris, atau membuat blog wisata desa
dalam dua bahasa, punya nilai tambah yang luar biasa. Mereka tidak hanya
membawa pengetahuan, tetapi juga memperkenalkan identitasnya ke dunia.
Peran sekolah, guru, dan orang tua
sangat penting dalam membentuk pendidikan yang glokal ini. Kurikulum yang
fleksibel, proyek pembelajaran kontekstual, pemanfaatan teknologi, serta
pembiasaan cinta budaya lokal menjadi kunci. Misalnya, siswa bisa diajak
membuat vlog tentang tradisi lokal, atau belajar bahasa asing lewat cerita
rakyat daerah mereka. Pendidikan menjadi pengalaman hidup yang menyatu dengan
akar budaya, namun siap menjangkau dunia luar. Karena sejatinya, pendidikan
bukan soal seberapa jauh kita bisa pergi, tetapi seberapa kuat kita berdiri di
tempat berpijak. Dan hanya dengan akar yang kuat, kita bisa mengudara lebih
tinggi—tanpa kehilangan arah.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Pinterest