Harmonisasi Teknologi dan Karakter dalam Menjaga Marwah Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan dasar adalah masa yang paling krusial dalam membentuk identitas moral seorang individu sebelum mereka terjun ke masyarakat yang lebih luas. Di tengah serbuan teknologi AI yang sangat masif, menjaga marwah pendidikan dasar menjadi tantangan yang memerlukan harmoni antara kemajuan teknis dan kekuatan karakter. Teknologi tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa kendali nilai, karena tanpa karakter, kecerdasan hanya akan melahirkan penyalahgunaan yang merugikan. Harmonisasi ini merupakan upaya untuk menyatukan dua kutub yang sering dianggap berlawanan menjadi sebuah kekuatan yang saling melengkapi. Keberhasilan pendidikan masa depan terletak pada kemampuan kita menjaga keseimbangan antara kecanggihan otak buatan dan ketulusan hati manusia.
Marwah pendidikan dasar terletak pada kejujuran, disiplin, dan rasa hormat yang ditanamkan melalui proses interaksi sosial di dalam sekolah. Kehadiran AI harus diposisikan sedemikian rupa sehingga tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan tersebut melainkan justru memperkuatnya secara inovatif. Sebagai contoh, teknologi dapat digunakan untuk memantau perkembangan karakter siswa melalui portofolio digital yang mencatat proses pertumbuhan mereka secara jujur. Ketika teknologi digunakan untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas, maka marwah pendidikan akan tetap terjaga dengan baik di mata masyarakat. Kita harus memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi selalu dibarengi dengan penguatan pendidikan karakter yang lebih intensif di ruang kelas.
Integrasi karakter dalam penggunaan teknologi juga berarti mengajarkan empati dan tanggung jawab sosial dalam dunia maya kepada anak-anak sejak dini. Siswa perlu memahami bahwa di balik layar monitor ada hak-hak orang lain yang harus dihormati dan ada aturan moral yang tidak boleh dilanggar. Harmonisasi ini akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi perkembangan mental siswa secara sehat di era digital. Guru memegang peranan vital sebagai dirigen dalam harmoni ini, memastikan bahwa nada kemajuan teknologi tidak menenggelamkan melodi kejujuran. Dengan demikian, sekolah dasar akan tetap menjadi institusi yang dihormati karena kemampuannya menghasilkan manusia yang seimbang antara kecerdasan dan akhlak.
Penerapan strategi ini secara akademis memerlukan pendekatan kurikulum yang holistik dan tidak lagi tersekat-sekat antara pelajaran teknologi dan pelajaran moral. Setiap guru, apa pun mata pelajarannya, harus menjadi pengajar karakter yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana penyampaian nilai-nilai luhur. Transformasi ini mungkin tidak mudah, namun merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan marwah pendidikan dari degradasi moral akibat penyalahgunaan AI. Kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari penguasaan teknologi, tetapi dari integritas warga negaranya. Harmonisasi ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun peradaban yang cerdas secara digital namun tetap berakar pada budaya luhur.
Sebagai kesimpulan, marilah kita berkomitmen untuk tidak membiarkan teknologi merusak fondasi moral yang telah kita bangun susah payah di sekolah dasar. Kecerdasan buatan adalah anugerah inovasi yang harus dikelola dengan bijak demi kemaslahatan proses pendidikan anak bangsa. Menjaga marwah pendidikan berarti menjaga kejujuran tetap menjadi napas utama dalam setiap detik aktivitas belajar mengajar di sekolah. Semoga dengan upaya harmonisasi yang terus-menerus, kita mampu melahirkan generasi yang unggul dalam teknologi dan mulia dalam karakter. Masa depan yang cerah hanya milik mereka yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk jalan kebenaran dan integritas.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti