Heatwave School Alert: Mengintegrasikan Cuaca Ekstrem ke Pendidikan Dasar demi SDGs yang Lebih Nyata
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Gelombang panas ekstrem (heatwave) yang kini melanda berbagai wilayah di Indonesia semakin memperlihatkan pentingnya pendidikan berbasis cuaca di sekolah dasar. Banyak aktivitas belajar mengajar terpaksa diubah karena kondisi suhu yang tidak aman bagi anak-anak. Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca besok bukan lagi informasi tambahan, tetapi faktor penentu perencanaan pendidikan. Guru dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan iklim agar dapat melakukan antisipasi keselamatan siswa. Hal ini sejalan dengan target SDGs 13 yang menekankan pentingnya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sekolah sebagai lingkungan yang paling dekat dengan anak harus menjadi laboratorium kesiapsiagaan iklim.
Dalam menghadapi heatwave, beberapa sekolah mulai menerapkan heat index protocol sederhana yang dibuat oleh guru dengan bantuan data BMKG. Protokol ini berisi panduan kapan siswa boleh beraktivitas di luar ruangan, kapan harus masuk ke ruang kelas, dan kapan kegiatan harus dihentikan. Siswa diajak memahami alasan ilmiah di balik setiap keputusan tersebut, sehingga mereka tidak hanya mengikuti aturan tetapi juga memahami risikonya. Pembelajaran seperti ini meningkatkan literasi kesehatan dan literasi iklim sekaligus. Guru dapat mengintegrasikan data suhu harian dalam pelajaran matematika, IPA, hingga pendidikan karakter. Semua ini membantu siswa melihat bahwa kondisi iklim memengaruhi semua aspek kehidupan.
Untuk memperkuat pembelajaran, beberapa sekolah juga menggunakan video simulasi global warming, peta satelit suhu bumi, dan modul interaktif tentang cuaca ekstrem. Siswa diajak menganalisis bagaimana kenaikan suhu global berdampak pada cuaca hari ini dan cuaca besok. Pendekatan berbasis data visual ini terbukti meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep iklim yang kompleks. Guru dapat mengajak siswa membuat prediksi perubahan cuaca berdasarkan pola grafik yang mereka amati. Aktivitas ini sekaligus melatih kemampuan argumentasi ilmiah siswa. Dengan demikian, pembelajaran cuaca menjadi sarana melatih kecakapan abad 21 seperti analisis data, interpretasi, dan komunikasi ilmiah.
Meski inovatif, penerapan pendidikan cuaca ekstrem juga menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Beberapa sekolah mengaku mengalami kesulitan dalam menyediakan sumber belajar visual berkualitas karena keterbatasan perangkat teknologi. Guru juga memerlukan pelatihan khusus untuk memahami konsep iklim modern, yang tidak selalu dipelajari dalam pendidikan guru sebelumnya. Tidak semua orang tua memahami pentingnya literasi iklim, sehingga ada yang menganggap pembelajaran cuaca kurang relevan. Ketidakselarasan pandangan ini sering menjadi hambatan implementasi. Namun demikian, sekolah yang berhasil biasanya adalah sekolah dengan budaya komunikasi yang kuat antara guru, orang tua, dan siswa.
Terlepas dari hambatan tersebut, pembelajaran cuaca ekstrem menjadi bukti bahwa pendidikan dasar dapat berkembang menjadi katalisator perubahan sosial. Siswa yang terbiasa memahami informasi cuaca sejak dini akan lebih siap menghadapi risiko lingkungan di masa depan. Hal ini memberikan kontribusi langsung terhadap ketangguhan masyarakat di tingkat lokal dan nasional. Dengan memperkuat hubungan antara cuaca besok, pendidikan dasar, dan SDGs, sekolah mampu menjalankan fungsi edukatif sekaligus fungsi sosial-ekologisnya. Jika gerakan ini diperluas secara nasional, Indonesia dapat membangun generasi yang lebih peka terhadap perubahan iklim. Generasi ini nantinya akan menjadi pelindung keberlanjutan bum.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati