Informasi Banyak, Pemahaman Tak Selalu Datang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Zaman ini tidak kekurangan informasi. Justru sebaliknya, ia berlimpah hingga sulit dihindari. Setiap hari, ribuan pesan melintas di layar. Banyak orang merasa tahu banyak karena sering terpapar. Namun paparan tidak selalu berarti pemahaman. Literasi digital menekankan kualitas di atas kuantitas. Membaca satu sumber tepercaya lebih bermakna daripada sepuluh sumber meragukan. Kesadaran ini jarang tumbuh secara otomatis. Ia perlu dilatih dan dibiasakan. Literasi digital menjadi fondasinya.
Di media sosial, opini sering menyamar sebagai fakta. Narasi personal dibungkus seolah kebenaran umum. Tanpa literasi, batas ini menjadi kabur. Pengguna sulit membedakan pengalaman individu dan data objektif. Akibatnya, kesimpulan keliru mudah terbentuk.
Fenomena komentar ramai sering dianggap validasi kebenaran. Padahal keramaian tidak menjamin akurasi. Literasi digital mengajarkan skeptisisme sehat. Ia mengajak bertanya, bukan sekadar mengangguk. Sikap ini menjaga nalar tetap tajam.
Selain itu, literasi digital menumbuhkan kesadaran akan bias. Setiap orang membawa sudut pandangnya sendiri. Algoritma memperkuat bias ini dengan menyajikan konten serupa. Literasi digital membantu menyadari jebakan tersebut. Dari situ, pandangan bisa diperluas.
Pemahaman juga berkaitan dengan kemampuan menyimpulkan. Tanpa literasi, informasi hanya menumpuk. Dengan literasi, informasi diolah menjadi pengetahuan. Proses ini memerlukan waktu dan kesabaran. Dua hal yang sering tergerus oleh budaya instan.
Ruang digital sebenarnya menawarkan peluang belajar besar. Namun peluang ini hanya terbuka bagi yang siap berpikir kritis. Literasi digital menjadi kunci pembukanya. Ia mengubah informasi menjadi pemahaman.
Pada akhirnya, melek digital bukan soal seberapa banyak yang dibaca. Ia soal seberapa dalam yang dipahami. Di situlah kualitas manusia digital diuji.
Penulis: Resinta Aini Z.