Inklusi dan Tantangan Menyelaraskan Idealisme
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Idealisme inklusif lahir dari semangat keadilan dan kemanusiaan. Ia menawarkan visi pendidikan yang menghargai setiap individu. Dalam tataran konsep, inklusi tampak utuh dan menjanjikan. Namun menyelaraskan idealisme dengan praktik lapangan bukan perkara mudah. Banyak kompromi terjadi di sepanjang jalan. Realitas sering memaksa penyesuaian. Idealisme berhadapan dengan keterbatasan nyata. Ketegangan ini menjadi dinamika utama inklusi. Tanpa pengelolaan bijak, idealisme dapat memudar.
Tantangan utama terletak pada perubahan pola pikir. Idealisme menuntut fleksibilitas dan empati. Namun praktik sering terjebak pada rutinitas lama. Perubahan dianggap mengganggu stabilitas. Akibatnya, inklusi berjalan lambat.
Menyelaraskan idealisme juga membutuhkan kesiapan emosional. Inklusi menghadirkan kompleksitas relasi. Tidak semua pihak siap menghadapi ketidakpastian. Ketika muncul kesulitan, idealisme mudah dipertanyakan. Praktik inklusif menjadi defensif.
Selain itu, idealisme sering tidak disertai dengan ruang refleksi. Proses evaluasi jarang dilakukan secara mendalam. Kesalahan dipandang sebagai kegagalan, bukan pembelajaran. Padahal inklusi adalah proses belajar berkelanjutan. Tanpa refleksi, praktik stagnan.
Tantangan lain muncul dari ekspektasi yang tidak realistis. Idealisme inklusif sering dibebani harapan tinggi. Ketika hasil tidak sesuai, muncul kekecewaan. Hal ini dapat melemahkan komitmen. Inklusi membutuhkan kesabaran jangka panjang.
Menyelaraskan idealisme dan praktik memerlukan pendekatan adaptif. Fleksibilitas menjadi kunci dalam menghadapi realitas. Idealisme tidak harus ditinggalkan, tetapi diterjemahkan secara kontekstual. Proses ini menuntut kreativitas dan keterbukaan.
Ketika idealisme diperlakukan sebagai kompas, bukan beban, inklusi dapat berkembang. Praktik lapangan menjadi ruang eksperimentasi nilai. Di situlah inklusivitas menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah