Inklusi Pendidikan dan Realitas Ketimpangan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Inklusi pendidikan sering dikaitkan dengan semangat kesetaraan. Ia hadir sebagai respons terhadap ketimpangan sosial yang mengakar. Dalam wacana, inklusi menjanjikan ruang yang setara bagi semua individu. Namun realitas lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan masih bertahan. Praktik inklusif belum sepenuhnya mampu menjembatani perbedaan. Banyak individu masih merasakan hambatan struktural. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan tetap nyata. Inklusi berjalan di tengah realitas yang tidak seragam. Kondisi ini menuntut evaluasi yang jujur dan berkelanjutan.
Ketimpangan muncul dalam berbagai bentuk. Perbedaan kebutuhan tidak selalu mendapat perhatian yang sama. Praktik inklusif sering lebih menguntungkan kelompok tertentu. Yang lain tertinggal tanpa dukungan memadai. Inklusi belum sepenuhnya merata.
Selain itu, ketimpangan juga bersumber dari relasi kuasa. Siapa yang menentukan standar sering kali tidak merepresentasikan keberagaman. Praktik inklusif mengikuti perspektif dominan. Suara kelompok rentan kurang terdengar. Inklusi kehilangan sifat partisipatifnya.
Realitas ketimpangan diperparah oleh minimnya refleksi kritis. Praktik berjalan tanpa evaluasi mendalam. Ketimpangan dianggap sebagai konsekuensi tak terhindarkan. Padahal banyak ketimpangan dapat diminimalkan melalui pendekatan adaptif. Tanpa refleksi, praktik stagnan.
Ketimpangan yang dibiarkan dapat menimbulkan rasa frustrasi. Individu yang terdampak merasa tidak diakui. Inklusi dipersepsikan sebagai janji kosong. Hal ini berisiko melemahkan kepercayaan terhadap nilai inklusivitas. Praktik kehilangan legitimasi moral.
Menghadapi realitas ini, inklusi perlu diarahkan pada keadilan substantif. Kesetaraan tidak selalu berarti perlakuan sama. Pendekatan perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata. Inklusi menuntut keberanian untuk berbeda.
Ketika inklusi mampu merespons ketimpangan secara sadar, ia menjadi alat transformasi sosial. Praktik lapangan tidak lagi sekadar formalitas. Inklusi menemukan kembali tujuan kemanusiaannya. Di situlah pendidikan bergerak menuju keadilan yang lebih nyata.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah