Integrasi ChatGPT dalam Penyusunan Modul Pendidikan Karakter Bertema Hari Ibu
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjelang
peringatan Hari Ibu, banyak pendidik mulai beralih menggunakan kecerdasan
buatan seperti ChatGPT untuk merancang modul pembelajaran yang lebih variatif
dan menyentuh. AI ini dimanfaatkan untuk menyusun draf puisi, esai reflektif,
hingga naskah drama singkat yang menekankan pada peran perempuan dalam
pembangunan berkelanjutan (SDG 5: Kesetaraan Gender). Dengan bantuan teknologi,
guru dapat menciptakan materi yang tidak hanya mendidik secara kognitif, tetapi
juga membangun kecerdasan emosional siswa melalui konten yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan
ChatGPT di sekolah bukan berarti menggantikan peran guru, melainkan sebagai
asisten kreatif untuk memperkaya referensi. Guru dapat meminta AI untuk
menyarikan biografi tokoh-tokoh ibu inspiratif dari berbagai belahan dunia dan
menerjemahkannya menggunakan fitur terjemah yang tersedia secara instan.
Langkah ini memberikan wawasan global kepada siswa bahwa perjuangan ibu
memiliki nilai-nilai universal yang melampaui batas geografis dan budaya,
sejalan dengan visi pendidikan global untuk membentuk karakter siswa yang
berempati tinggi.
Dalam
implementasinya di kelas, siswa diajak untuk melakukan debat kritis mengenai
hasil tulisan yang dihasilkan oleh AI tersebut. Mereka diminta untuk
membandingkan teks buatan ChatGPT dengan pengalaman pribadi mereka bersama ibu
masing-masing. Diskusi ini bertujuan untuk mengasah kemampuan literasi digital
dan berpikir kritis, sehingga siswa paham bahwa teknologi adalah alat bantu,
sementara orisinalitas perasaan dan pengalaman manusia tetaplah yang utama
dalam penulisan karya seni maupun refleksi kehidupan.
Selain
itu, modul yang disusun dengan bantuan AI ini seringkali diintegrasikan dengan
tugas multimedia. Siswa diminta untuk mengonversi naskah buatan mereka menjadi
video pendek untuk diunggah ke kanal YouTube sekolah. Proses kreatif ini
mengajarkan siswa cara bercerita (storytelling) di era digital, yang merupakan
keterampilan krusial di masa depan. Pendidikan karakter yang dikemas dengan
cara modern ini terbukti lebih efektif dalam menarik minat siswa dibandingkan
metode ceramah satu arah yang cenderung membosankan.
Singkatnya,
teknologi kecerdasan buatan telah membuka pintu baru dalam cara kita
memperingati hari besar seperti Hari Ibu di sekolah. Dengan menggabungkan
teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan kita menjadi lebih dinamis
dan tidak ketinggalan zaman. Inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan
untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, di mana pendidikan
yang berkualitas dan inklusif menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi
penerus bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti luhur.
###
Penulis : Anisa Rahmawati