Integritas Dimulai dari Sekolah Dasar: Gerakan Hargai Karya Sendiri dan Orang Lain
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Gerakan nasional “Integritas Dimulai dari Sekolah Dasar” telah memasuki tahap implementasi di kota Surabaya, dengan fokus pada pendidikan nilai menghargai karya sendiri dan orang lain. Gerakan ini digagas oleh beberapa organisasi pendidikan swasta yang bekerja sama dengan dinas pendidikan untuk menanamkan kesadaran tentang integritas dan keaslian sejak dini. Ratusan sekolah dasar di Surabaya telah bergabung dalam gerakan ini, dengan setiap sekolah mengembangkan aktivitas yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa mereka.
Konsep dasar gerakan ini adalah bahwa integritas bukan hanya tentang kejujuran dalam berbicara dan bertindak, tetapi juga tentang menghargai hasil karya diri sendiri dan orang lain. Di setiap sekolah yang mengikuti gerakan, dibuat ruang khusus yang diberi nama “Ruang Kreativitas dan Integritas” tempat siswa dapat menampilkan karya asli mereka. Ruang ini juga dilengkapi dengan informasi sederhana tentang hak cipta dan cara menghormati karya orang lain, yang disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Salah satu aktivitas unggulan dalam gerakan ini adalah “Hari Karya Orisinal” yang diadakan setiap bulan. Pada hari tersebut, siswa dari seluruh kelas menunjukkan karya kreatif mereka, mulai dari kerajinan tangan, lukisan, tulisan, hingga model sederhana yang dibuat dengan bahan bekas. Setiap siswa harus menjelaskan proses pembuatan karya mereka dan ide yang menjadi dasar pembuatan karya tersebut. Guru dan teman sekelas kemudian memberikan apresiasi dan umpan balik konstruktif yang bertujuan untuk mendorong lebih banyak kreativitas dan integritas.
Penyuluhan tentang pentingnya menghargai karya asli juga diberikan kepada orang tua siswa melalui berbagai kegiatan seperti lokakarya dan pertemuan rutin. Orang tua diajak untuk memahami bahwa kebiasaan meniru atau menyuruh orang lain membuat karya untuk anak mereka justru menghambat perkembangan kreativitas dan integritas anak. Mereka juga diberikan tips praktis untuk mendukung anak-anak mereka di rumah, seperti memberikan waktu khusus untuk berkreasi, menghargai setiap usaha anak meskipun hasilnya belum sempurna, dan tidak membandingkan karya anak dengan karya teman sebaya.
Gerakan ini telah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kota Surabaya dan beberapa perusahaan lokal yang menyumbangkan bahan dan perlengkapan untuk kegiatan kreatif siswa. Evaluasi yang dilakukan selama enam bulan menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti gerakan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang konsep orisinalitas dan lebih mampu menghargai karya sendiri serta orang lain. Rencana di depannya adalah untuk menjadikan gerakan ini sebagai program tetap di semua sekolah dasar di Surabaya dan menyebarkan konsepnya ke wilayah lain di Jawa Timur.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah