Integritas sebagai Kebiasaan Kecil yang Terus Diulang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Integritas sering dibayangkan sebagai konsep besar yang rumit. Padahal dalam keseharian anak, ia hadir melalui pilihan-pilihan kecil. Pilihan untuk menulis dengan kata sendiri meski sederhana. Pilihan untuk mengakui sumber meski tidak diminta. Di era digital, pilihan ini terjadi berulang kali di ujung jari. Dari situlah karakter perlahan dibentuk.
Dalam aktivitas belajar, kebiasaan kecil sering luput dari perhatian. Anak lebih banyak dinilai dari hasil akhir. Proses jarang dibicarakan. Ketika proses tidak dihargai, integritas kehilangan ruang tumbuh. Anak belajar bahwa yang penting adalah selesai. Nilai kejujuran pun terpinggirkan.
Media sosial ikut membentuk pola kebiasaan ini. Konten yang cepat dan ringkas menjadi rujukan. Anak terbiasa melihat potongan tanpa konteks. Kebiasaan ini terbawa ke cara berpikir. Menyalin terasa efisien. Padahal efisiensi tidak selalu sejalan dengan nilai.
Mengajarkan integritas berarti menghidupkan kembali perhatian pada proses. Anak perlu diajak menceritakan bagaimana ia mengerjakan sesuatu. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Dari cerita itulah kesadaran muncul. Anak mulai melihat nilai di balik usahanya sendiri. Integritas tumbuh sebagai kebiasaan, bukan kewajiban.
Kebiasaan kecil juga berkaitan dengan konsistensi. Satu tindakan jujur mungkin terasa sepele. Namun ketika diulang, ia membentuk pola. Pola ini menjadi bagian dari diri anak. Tanpa disadari, ia tumbuh menjadi sikap hidup. Integritas tidak lagi dipaksakan dari luar.
Lingkungan memiliki peran penting dalam menjaga kebiasaan ini. Anak meniru apa yang ia lihat setiap hari. Ketika kejujuran dihargai, ia merasa aman untuk jujur. Ketika orisinalitas diapresiasi, ia berani mencipta. Lingkungan yang konsisten melahirkan karakter yang kuat.
Pada akhirnya, integritas bukan tentang kesempurnaan. Ia tentang kesediaan memilih yang benar secara konsisten. Di ujung jari anak, pilihan itu terus hadir. Setiap pilihan kecil memiliki arti. Dari sanalah orisinalitas tumbuh sebagai kebiasaan hidup.
Penulis: Resinta Aini Z.