Jempol, Layar, dan Pertaruhan Nilai Orisinalitas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Jempol anak kini bergerak lebih lincah daripada pensil yang dulu akrab digenggam. Dari satu sentuhan ke sentuhan lain, informasi berpindah dengan cepat dan nyaris tanpa batas. Dalam arus inilah orisinalitas sering kali terombang-ambing. Anak tumbuh di tengah banjir konten yang tampak siap pakai. Ide tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Ia hadir seolah sudah menunggu untuk diambil.
Di balik kemudahan tersebut, nilai integritas diuji secara diam-diam. Anak dapat menyalin kalimat dengan rapi tanpa merasa bersalah. Tidak ada suara pengawas, tidak ada tatapan curiga. Semua berlangsung tenang dan cepat. Ketika proses ini berulang, menyalin berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan inilah yang sulit diurai jika tidak disadari sejak awal.
Media sosial turut membentuk cara pandang tentang karya. Video edukasi singkat, caption inspiratif, dan rangkuman instan berseliweran setiap hari. Anak melihat ide sebagai sesuatu yang bisa dipinjam kapan saja. Tidak selalu ada penjelasan tentang asal-usulnya. Dari sini, batas kepemilikan ide menjadi samar. Orisinalitas kehilangan panggungnya.
Padahal ide bukan sekadar hasil, melainkan perjalanan berpikir. Anak perlu merasakan bagaimana sebuah gagasan muncul dari kebingungan, lalu dirangkai perlahan. Proses ini melatih kesabaran dan kejujuran pada diri sendiri. Tanpa proses, belajar menjadi dangkal. Integritas pun berubah menjadi konsep abstrak yang sulit dipahami. Padahal ia seharusnya hidup dalam tindakan kecil.
Mengajarkan orisinalitas tidak harus dimulai dari karya besar. Kalimat sederhana dengan kata sendiri sudah cukup. Anak perlu diberi ruang untuk salah dan memperbaiki. Kesalahan adalah bagian dari proses mencipta. Ketika kesalahan diterima, keberanian untuk mencoba meningkat. Dari keberanian itulah integritas tumbuh.
Di era jempol dan layar, integritas perlu dikenalkan sebagai kebanggaan, bukan beban. Anak perlu merasa bangga pada hasil pikirannya sendiri. Sekecil apa pun, itu adalah miliknya. Perasaan ini jauh lebih kuat daripada aturan tertulis. Ketika bangga tumbuh, menyalin tanpa izin terasa tidak nyaman. Nilai bekerja dari dalam.
Pada akhirnya, jempol di layar tidak selalu harus menjadi ancaman. Ia bisa menjadi alat untuk mengekspresikan ide dengan jujur. Integritas di ujung jari adalah tentang pilihan sadar setiap hari. Memilih berpikir sebelum menyalin. Memilih jujur meski tidak ada yang melihat. Dari pilihan itulah karakter terbentuk.
Penulis: Resinta Aini Z.