Kambing Hitam Bernama Algoritma: Menggugat Absennya Literasi Digital di Kurikulum SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Narasi publik
belakangan ini kerap menyalahkan algoritma media sosial sebagai biang keladi
paparan konten negatif pada anak, namun kenyataan pahit justru menunjuk pada
satu titik: kegagalan kurikulum kita dalam membangun benteng literasi digital
sejak dini. Di saat jutaan siswa Sekolah Dasar (SD) telah menggenggam ponsel
pintar setiap hari, kurikulum formal masih terjebak pada metode pengajaran
konvensional yang mengabaikan navigasi dunia siber. Tanpa adanya integrasi
literasi digital yang sistematis, pendidikan kita seolah-olah melepaskan
anak-anak ke tengah samudra luas tanpa kompas maupun keterampilan berenang yang
memadai.
Data menunjukkan bahwa
durasi penggunaan internet pada anak usia SD meningkat drastis, namun kemampuan
mereka untuk membedakan fakta dan hoaks tetap berada pada titik nadir.
Algoritma hanyalah mesin yang bekerja berdasarkan pola, sedangkan kemampuan
kritis untuk menyaring pola tersebut seharusnya menjadi tugas pendidikan
formal. Selama ini, literasi digital hanya dianggap sebagai "materi
tambahan" atau muatan lokal yang opsional, bukan sebagai kompetensi inti
yang menentukan kelangsungan hidup intelektual siswa di era modern.
Analisis mendalam
mengungkap bahwa struktur kurikulum kita masih terlalu fokus pada hafalan
subjek, bukan pada kemampuan berpikir kritis (critical thinking)
terhadap informasi digital. Anak diajarkan cara membaca buku teks, tetapi tidak
diajarkan cara membaca sumber informasi di mesin pencari. Kesenjangan kurikuler
ini menciptakan generasi yang mahir secara teknis (bisa mengoperasikan gawai)
namun buta secara esensial (tidak memahami risiko dan etika digital).
Para akademisi pendidikan
menilai bahwa menyalahkan penyedia platform digital adalah bentuk pelarian
tanggung jawab dari institusi pendidikan. Transformasi digital tidak bisa hanya
dihadapi dengan pelarangan gawai, melainkan dengan pembaruan pedagogi yang
radikal. Kurikulum harus secara eksplisit memuat materi tentang keamanan siber,
privasi data, dan verifikasi informasi sebagai literasi dasar setingkat dengan
membaca, menulis, dan berhitung.
Jika pendidikan gagal
menjadi filter utama, maka anak-anak kita akan terus menjadi sasaran empuk
manipulasi informasi. Kegagalan kurikulum dalam mengantisipasi kecepatan
teknologi adalah ancaman nyata bagi kualitas demokrasi dan ketahanan mental
bangsa di masa depan. Sudah saatnya otoritas pendidikan berhenti bersikap
reaktif dan mulai membangun kerangka literasi digital yang kokoh dan
integratif.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah