Kepemimpinan Etis Cilik: Melatih Tanggung Jawab di Dunia yang Terbelah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pengembangan
program "Kepemimpinan Etis Cilik" di sejumlah sekolah dasar di Bali
menjadi jawaban nyata atas krisis keteladanan pemimpin di tingkat global yang
sering kali memperlihatkan perilaku polaritatif dan memecah belah tahun ini.
Sejak awal semester, para siswa mulai diajarkan tentang pentingnya nilai-nilai
integritas, kejujuran, dan keadilan dalam memimpin kelompok kecil, baik di
dalam kelas maupun di organisasi siswa tingkat dasar. Program ini didasarkan
pada pemikiran mendalam bahwa untuk mengubah tatanan dunia yang saat ini tampak
begitu terfragmentasi, kita harus memulai dengan mencetak pemimpin-pemimpin
masa depan yang memiliki kompas moral yang kokoh sejak usia sekolah dasar.
Pelajaran kepemimpinan
ini bukan dirancang untuk mengejar jabatan atau kekuasaan, melainkan tentang
bagaimana mengambil keputusan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Siswa dilatih untuk aktif mendengarkan
aspirasi dari semua teman, termasuk mereka yang memiliki pendapat paling
berbeda atau yang paling pendiam sekalipun dalam diskusi kelompok. Analisis
para ahli menyebutkan bahwa pemimpin yang dilatih dengan nilai-nilai
inklusivitas sejak dini akan memiliki ketahanan yang jauh lebih baik terhadap
godaan populisme yang memecah belah saat mereka beranjak dewasa nanti.
Pendidikan moral melalui praktik kepemimpinan adalah simulasi nyata dalam
membangun masyarakat yang demokratis, adil, dan beradab.
Dalam praktiknya, siswa
diberikan tanggung jawab bergilir sebagai ketua kelompok dalam berbagai proyek
kelas, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk merasakan beban tanggung
jawab sebagai seorang pemimpin. Mereka diajarkan bahwa seorang pemimpin sejati
adalah mereka yang paling pertama melayani dan yang paling terakhir menerima
pujian, sebuah konsep kepemimpinan pelayan (servant leadership) yang
sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Guru bertindak sebagai mentor yang
memberikan umpan balik mengenai cara siswa menangani konflik antar-anggota tim
secara etis dan tanpa kekerasan. Proses ini membangun rasa percaya diri
sekaligus kerendahan hati pada diri anak, dua kualitas yang sangat jarang
ditemukan pada banyak pemimpin dunia saat ini yang lebih mengedepankan ego
kelompok.
Kepemimpinan etis juga
mencakup keberanian untuk berkata jujur meskipun kebenaran itu pahit atau tidak
populer di kalangan teman-teman sejawatnya. Siswa diajak untuk memahami bahwa
integritas adalah mata uang paling berharga dalam kepemimpinan, dan sekali
kepercayaan itu hilang karena kebohongan, akan sangat sulit untuk membangunnya
kembali. Melalui studi kasus sederhana atau drama pendek, siswa belajar
konsekuensi dari keputusan yang tidak adil dan bagaimana hal tersebut dapat
merusak keharmonisan sebuah komunitas kecil seperti kelas. Pelajaran ini sangat
penting untuk mencegah bibit-bibit korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan sejak
dini, menanamkan rasa takut akan tindakan tidak etis sebagai bagian dari
identitas moral mereka.
Program ini juga
mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat berskala
kecil, seperti mengelola bak bakti sosial atau menjadi sukarelawan kebersihan
di lingkungan sekolah. Aktivitas ini melatih kepedulian sosial sebagai bagian
tak terpisahkan dari karakter seorang pemimpin yang etis, di mana mereka
belajar bahwa kepemimpinan adalah alat untuk membawa perubahan positif bagi
orang lain. Dengan melihat langsung dampak dari tindakan kepemimpinan mereka
terhadap kesejahteraan teman atau lingkungan, siswa akan merasakan kepuasan
batin yang jauh lebih besar daripada sekadar perintah dan kekuasaan. Hal ini
membentuk pola pikir bahwa menjadi pemimpin berarti memiliki tanggung jawab
besar untuk menjaga harmoni dan keadilan di lingkungannya.
Keberhasilan pembentukan
pemimpin etis cilik ini diharapkan akan berdampak pada kualitas demokrasi dan
kehidupan sosial kita di masa depan yang lebih stabil serta tidak mudah
terombang-ambing oleh arus polarisasi. Anak-anak yang hari ini belajar bersikap
adil dan transparan di sekolah akan menjadi pengambil kebijakan yang bijaksana
serta berintegritas tinggi di masa depan. Pendidikan tidak boleh hanya fokus
pada mencetak pekerja cerdas yang kompetitif secara ekonomi, tetapi harus mampu
mencetak pemimpin bermoral yang mampu menyatukan berbagai perbedaan di bawah
visi kemanusiaan yang sama. Dengan melatih tanggung jawab etis sejak dini, kita
sedang memberikan harapan baru bagi dunia yang saat ini tampak begitu lelah
dengan konflik dan pertikaian tanpa akhir.
Sebagai kesimpulan,
program Kepemimpinan Etis Cilik adalah investasi paling strategis untuk
menjamin keberlangsungan bangsa yang harmonis di tengah tantangan global yang
semakin kompleks. Kita sedang menanam benih-benih integritas yang suatu saat
nanti akan tumbuh menjadi pohon kepemimpinan yang mengayomi seluruh lapisan
masyarakat tanpa diskriminasi. Pendidikan moral melalui kepemimpinan adalah
cara paling efektif untuk mengajarkan anak bahwa mereka memiliki kekuatan untuk
membuat perbedaan positif bagi dunia. Mari kita terus dukung anak-anak kita
untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia
hatinya dan adil tindakannya. Masa depan dunia yang damai ada di pundak para
pemimpin kecil yang hari ini sedang belajar tentang kejujuran dan tanggung
jawab di bangku sekolah dasar kita.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah