Kesiapan Guru SD dalam Menghadapi Kurikulum yang Berbasis Kompetensi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Perubahan kebijakan kurikulum sering menjadi tantangan besar bagi guru di sekolah dasar. Kurikulum berbasis kompetensi menuntut guru untuk mengubah orientasi pembelajaran dari sekadar menyelesaikan materi menjadi mengembangkan keterampilan nyata pada siswa. Perubahan ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang desain pembelajaran, asesmen, dan praktik reflektif. Banyak guru mengaku kesulitan ketika harus mengatur fokus pada capaian kompetensi yang abstrak. Karena itu, kesiapan guru menjadi faktor penentu dalam keberhasilan implementasi kurikulum.
Salah satu aspek kesiapan adalah penguasaan pedagogi diferensiasi. Guru perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar, minat, dan kemampuan berbeda. Kurikulum berbasis kompetensi sangat menekankan personalisasi pembelajaran agar semua siswa mencapai standar minimal. Guru harus mampu menyesuaikan strategi, media, dan tingkat kesulitan pembelajaran. Pada tataran praktis, ini memerlukan perencanaan lebih rinci dan fleksibel.
Asesmen merupakan komponen penting dalam kurikulum kompetensi. Guru dituntut untuk menggunakan berbagai instrumen seperti observasi, proyek, portofolio, dan penilaian diri. Beban administrasi dan kurangnya pelatihan sering membuat guru kesulitan menerapkan asesmen secara optimal. Bila asesmen dilakukan hanya sebagai formalitas, tujuan kurikulum tidak akan tercapai. Oleh karena itu, dukungan pelatihan dan pendampingan sangat diperlukan.
Selain kompetensi pedagogis, kesiapan guru juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan lingkungan kerja. Guru membutuhkan keyakinan diri, motivasi, serta persepsi positif terhadap perubahan kurikulum. Sekolah juga harus menyediakan ruang kolaborasi agar guru dapat saling berdiskusi dan berbagi praktik baik. Jika lingkungan kerja tidak mendukung, guru akan lebih sulit beradaptasi dengan perubahan kebijakan.
Kesiapan guru merupakan fondasi utama keberhasilan kurikulum berbasis kompetensi. Investasi pada pelatihan, pendampingan, dan lingkungan kerja yang sehat akan memberikan dampak signifikan. Guru yang siap akan menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Kurikulum hanyalah dokumen, tetapi guru adalah penggerak utama implementasinya. Tanpa guru yang kompeten, pembelajaran berbasis kompetensi tidak akan berjalan efektif.
####
Penulis: Aida Meilina