Ketika Ide Pribadi Mulai Kehilangan Ruang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ide pribadi adalah ruang sunyi tempat anak belajar mengenali dirinya. Di ruang inilah pemikiran dirangkai tanpa tekanan. Namun ruang ini kini sering terdesak oleh derasnya informasi digital. Anak jarang dibiarkan berlama-lama dengan pikirannya sendiri. Jawaban cepat selalu tersedia. Dari sini, ide pribadi perlahan kehilangan ruang.
Dalam keseharian, anak terbiasa mencari referensi sebelum mencoba berpikir. Ia ingin memastikan jawabannya benar sejak awal. Kebiasaan ini terlihat efisien, tetapi menyisakan masalah. Proses mencoba dan salah menjadi jarang. Padahal dari kesalahan, pemahaman tumbuh. Tanpa ruang salah, belajar menjadi kaku.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini dengan budaya pembanding. Anak melihat karya orang lain yang tampak lebih rapi dan menarik. Perbandingan ini sering membuat ide sendiri terasa kurang layak. Akhirnya, ide pribadi disisihkan. Anak memilih menyalin atau menyesuaikan. Integritas pun kehilangan pijakannya.
Mengajarkan integritas berarti mengembalikan ruang bagi ide pribadi. Anak perlu diajak berpikir sebelum mencari jawaban. Bukan untuk membatasi, tetapi untuk melatih nalar. Proses ini tidak selalu nyaman. Namun ketidaknyamanan itulah yang membentuk daya pikir. Dari sanalah kejujuran intelektual tumbuh.
Ruang ide juga berkaitan dengan waktu. Anak membutuhkan waktu untuk merenung dan menyusun. Ketika semua serba cepat, waktu ini sering terpotong. Padahal berpikir tidak bisa dipercepat tanpa kehilangan makna. Integritas membutuhkan kesabaran. Kesabaran ini perlu dilatih sejak dini.
Pendampingan yang reflektif dapat membantu membuka kembali ruang ide. Anak diajak menceritakan bagaimana ia sampai pada sebuah gagasan. Bukan sekadar apa hasilnya. Pertanyaan semacam ini menumbuhkan kesadaran proses. Anak belajar menghargai pikirannya sendiri. Dari situ, orisinalitas menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, ide pribadi adalah fondasi karakter. Ketika fondasi ini kuat, anak tidak mudah tergoda untuk menyalin. Ia tahu nilai dari proses berpikirnya. Integritas di ujung jari bukan lagi slogan, melainkan sikap hidup. Sikap yang terbentuk dari ruang kecil yang dijaga dengan sabar.
Penulis: Resinta Aini Z.