Ketika Lembar Kosong Tak Lagi Berisik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pagi hari kini sering dimulai tanpa suara kertas dibalik, tanpa gesekan pensil yang biasanya menandai kesiapan belajar. Ruang belajar perlahan berubah menjadi hamparan layar yang menyala tenang, menawarkan kepraktisan yang terasa modern dan rapi. Gagasan tentang efisiensi tumbuh subur di tengah perubahan ini, seolah kecepatan dan kerapian menjadi ukuran baru kecerdasan. Buku tulis yang dahulu penuh coretan kini digantikan oleh ikon, menu, dan kolom digital yang mudah disunting. Dalam arus ini, belajar tampak seperti proses yang lebih bersih dan terkontrol. Namun di balik ketenangan visual tersebut, muncul pertanyaan tentang jejak ingatan yang tertinggal. Apakah memori anak tumbuh setajam dulu ketika tangan tak lagi akrab dengan garis dan tekanan?
Di balik layar sentuh yang licin, gerak tubuh anak menjadi semakin minimal. Jari hanya mengetuk atau menggeser, tanpa variasi tekanan yang dulu melatih koordinasi halus. Aktivitas belajar memang terasa lebih cepat, tetapi kecepatan sering kali meniadakan proses berlama-lama yang justru memperdalam pemahaman. Banyak yang memuji efisiensi ini sebagai jawaban atas tuntutan zaman. Namun tubuh manusia tidak sepenuhnya dirancang untuk belajar dalam keheningan gerak. Ingatan sering tumbuh dari interaksi fisik yang berulang dan bermakna.
Menariknya, rekaman pendek di TikTok kerap memperlihatkan anak-anak yang lebih lihai mengedit video daripada menulis kalimat panjang. Fenomena ini disambut decak kagum sekaligus kegelisahan yang samar. Kreativitas visual memang berkembang pesat, tetapi kemampuan menuangkan pikiran secara runtut perlahan menipis. Bahasa menjadi singkat, padat, dan sering kali terpotong oleh logika algoritma. Proses menulis yang dulu mengajak berpikir perlahan kini tergantikan oleh pilihan cepat. Di titik ini, efisiensi berpotensi menggerus kedalaman.
Ketika tangan menulis, tubuh sebenarnya sedang mengarsipkan ingatan melalui gerak. Tekanan pensil, jeda saat berpikir, hingga kesalahan kecil yang dicoret, semuanya menjadi bagian dari proses belajar. Tanpa itu, memori bekerja dengan cara yang berbeda, lebih visual namun kurang berjejak. Layar memang menyimpan data, tetapi tubuh tidak selalu menyimpannya dengan baik. Di sinilah memori kinestetik kehilangan panggungnya. Pembelajaran menjadi lebih ringan, tetapi mungkin juga lebih mudah menguap.
Sebagian orang berpendapat bahwa teknologi akan menggantikan semua keterbatasan manusia. Pandangan ini terdengar meyakinkan di atas kertas presentasi dan angka statistik. Namun belajar bukan hanya soal hasil akhir, melainkan perjalanan kognitif yang dilalui. Efisiensi sering mengabaikan proses yang tidak kasatmata. Padahal, justru di sanalah fondasi berpikir dibangun. Tanpa fondasi itu, pengetahuan mudah goyah.
Di ruang keluarga, orang tua mulai menyadari perbedaan cara anak mengingat pelajaran. Anak dapat menjawab cepat saat melihat layar, tetapi kesulitan menjelaskan ulang tanpa bantuan visual. Ingatan menjadi bergantung pada stimulus eksternal. Ketika stimulus itu hilang, pengetahuan ikut memudar. Situasi ini menimbulkan dilema yang tidak sederhana. Antara mengikuti arus atau menahan laju demi keseimbangan.
Akhirnya, buku tulis bukan sekadar benda usang yang tergantikan zaman. Ia adalah simbol dari pembelajaran yang melibatkan tubuh, waktu, dan kesabaran. Era tanpa buku tulis mungkin menawarkan efisiensi yang memesona. Namun tanpa kesadaran akan memori kinestetik, pembelajaran berisiko kehilangan kedalaman. Modernitas seharusnya tidak meniadakan cara manusia belajar secara alami. Di sanalah perdebatan ini menemukan maknanya.
Penulis: Resinta Aini Z.