Kurikulum Hijau: Integrasi Pendidikan Lingkungan dalam Pembelajaran di SD
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan lingkungan tidak lagi menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam seluruh aspek pembelajaran di SD ramah lingkungan. Melalui kurikulum hijau, siswa belajar tentang lingkungan hidup secara holistik dan kontekstual, sehingga mereka dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mengambil tindakan nyata untuk melestarikannya.
Kurikulum hijau mencakup berbagai mata pelajaran, mulai dari IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, hingga Seni dan Budaya. Dalam mata pelajaran IPA, siswa belajar tentang ekosistem, keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, dan perubahan iklim. Dalam mata pelajaran IPS, siswa belajar tentang interaksi manusia dengan lingkungan, sumber daya alam, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam mata pelajaran Matematika, siswa belajar tentang perhitungan yang berkaitan dengan lingkungan, seperti menghitung volume udara yang digunakan, menghitung jumlah sampah yang dihasilkan, atau menghitung emisi karbon yang dihasilkan. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa belajar tentang menulis artikel, membuat poster, atau menyampaikan pidato tentang lingkungan. Dalam mata pelajaran Seni dan Budaya, siswa belajar tentang membuat karya seni dari bahan daur ulang atau menampilkan pertunjukan bertema lingkungan.
Selain terintegrasi dalam mata pelajaran, pendidikan lingkungan juga diimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti kelompok pecinta alam, kegiatan penghijauan, atau kegiatan daur ulang. Siswa juga diajak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, seperti seminar, workshop, atau kunjungan ke tempat-tempat yang memiliki komitmen terhadap lingkungan.
Kurikulum hijau tidak hanya memberikan pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga mengembangkan keterampilan dan sikap peduli terhadap lingkungan. Siswa belajar untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Mereka juga belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan.
Melalui kurikulum hijau, SD ramah lingkungan melahirkan generasi muda yang memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, keterampilan yang mumpuni, dan sikap yang positif terhadap lingkungan. Mereka menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi keluarga, teman, dan masyarakat sekitar untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian, kurikulum hijau berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah