Kurikulum Merdeka dan Nalar Kritis: Apakah Ada Keterkaitan yang Optimal?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kurikulum Merdeka dirancang dengan memperhatikan pentingnya pengembangan nalar kritis sebagai salah satu kompetensi inti yang harus dimiliki siswa. Struktur kurikulum yang lebih fokus pada esensi materi dan penyajian yang terhubung antar konsep memberikan dasar yang kuat untuk membangun kemampuan berpikir kritis. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mendalam, investigasi mandiri, dan pemecahan masalah secara langsung mengkaitkan kurikulum dengan pengembangan nalar kritis.
Keterkaitan antara kurikulum dan nalar kritis terlihat dalam penyusunan standar kompetensi yang harus dicapai siswa di setiap tingkatan pendidikan. Standar tersebut tidak hanya mencakup pengetahuan tetapi juga keterampilan berpikir yang meliputi analisis, evaluasi, dan sintesis informasi. Mata pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris secara khusus mengintegrasikan elemen-elemen pembentukan nalar kritis melalui materi dan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk itu.
Namun, pertanyaan apakah keterkaitan ini sudah optimal masih menjadi perbincangan di kalangan praktisi pendidikan. Beberapa pihak berpendapat bahwa masih terdapat bagian dari kurikulum yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan pembelajaran nalar kritis, terutama pada mata pelajaran yang memiliki beban materi yang banyak. Selain itu, cara penyajian materi dan metode pembelajaran yang diterapkan di lapangan terkadang belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan nalar kritis, sehingga keterkaitan yang dirancang dalam kurikulum tidak dapat terwujud secara maksimal.
Faktor lain yang memengaruhi tingkat keterkaitan optimal adalah kemampuan guru dalam menghubungkan materi pelajaran dengan pengembangan nalar kritis. Guru yang memiliki pemahaman yang baik tentang hubungan antara kurikulum dan kemampuan berpikir kritis akan lebih mampu merancang kegiatan pembelajaran yang efektif. Sebaliknya, guru yang hanya fokus pada penyampaian materi akan sulit untuk mewujudkan keterkaitan yang diinginkan. Selain itu, dukungan infrastruktur dan sumber daya juga berperan penting dalam memastikan bahwa keterkaitan antara kurikulum dan nalar kritis dapat diimplementasikan dengan baik.
Upaya untuk meningkatkan keterkaitan yang optimal terus dilakukan melalui berbagai langkah, seperti penyempurnaan materi kurikulum, pelatihan guru yang lebih fokus pada metode pembelajaran berpikir kritis, serta pengembangan alat evaluasi yang dapat mengukur kemampuan nalar kritis siswa secara efektif. Dengan terus melakukan evaluasi dan perbaikan, diharapkan bahwa keterkaitan antara Kurikulum Merdeka dan pembentukan nalar kritis dapat menjadi lebih optimal dan memberikan manfaat yang maksimal bagi perkembangan siswa.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah