Kurikulum Merdeka di Atas Kertas: Tantangan Akses bagi Siswa Pelosok
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Implementasi
Kurikulum Merdeka yang mengedepankan pembelajaran berbasis proyek dan literasi
digital menemui jalan terjal saat diterapkan di sekolah dasar wilayah
terpencil. Dengan ketergantungan yang tinggi pada platform digital sebagai
sumber belajar utama, kurikulum ini secara tidak sengaja menciptakan segregasi
antara siswa yang memiliki akses internet melimpah dengan siswa yang terisolasi
secara digital. Fenomena ini memicu diskursus akademik mengenai keadilan
kurikulum dalam konteks disparitas infrastruktur nasional yang belum merata.
Analisis mendalam
terhadap materi ajar menunjukkan bahwa banyak konten esensial kini disajikan
dalam bentuk video interaktif atau simulasi daring yang memerlukan bandwidth
tinggi. Bagi sekolah di pedesaan, hal ini berarti kehilangan akses terhadap
sebagian besar kekayaan materi yang ditawarkan oleh negara. Akibatnya, terjadi
simplifikasi materi di lapangan yang pada akhirnya menurunkan standar
kompetensi lulusan di daerah tertinggal.
Para pakar kurikulum
menyarankan adanya versi "luar jaringan" (offline) yang
memiliki kualitas setara untuk setiap konten digital yang diluncurkan.
Penyediaan server lokal di sekolah dasar pelosok yang telah diisi dengan modul
pembelajaran lengkap bisa menjadi solusi jangka pendek yang efektif. Keadilan
pendidikan menuntut agar kualitas informasi yang diterima siswa tidak
ditentukan oleh letak geografis sekolah mereka.
Pada akhirnya, kurikulum
seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok pemisah. Jika pemerintah serius ingin
mewujudkan pemerataan, maka digitalisasi kurikulum harus dibarengi dengan
demokratisasi akses internet. Menjamin setiap siswa SD, baik di pusat keramaian
maupun di sunyinya pegunungan, mendapatkan porsi literasi digital yang sama
adalah ujian sesungguhnya dari janji mencerdaskan kehidupan bangsa.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah